Caudo dulunya sup berkuah dengan isian daging babi. Dihidangkan peranakan Tionghoa di Pulau Jawa.
Baca Juga: Jangan Sampai Gagal Masuk! Ini Aturan Lengkap Festival Lampion Waisak 2025 di Borobudur
Pada perkembangannya, caudo kemudian beradaptasi dengan cita rasa Jawa.
Bumbunya ditambahkan kemiri dan perasaan jeruk limau. Dagingnya pun diubah ke daging ayam.
Di beberapa daerah di Jawa, caudo ada yang berubah menjadi soto.
Baca Juga: Mengenal Rangkaian Perayaan Waisak di Borobudur, Mulai dari Thudong hingga Pelepasan Lampion
Sementara di Magelang, caudo menjadi nasi lesah.
Dalam bahasa Jawa, lesah artinya orang yang dalam kondisi letih lesu.
Nasi lesah dihidangkan untuk letih lesu agar setelah mengonsumsinya tubuhnya menjadi lebih hangat dan berstamina.
Baca Juga: Lengkapi Perayaan Waisak 2025 dengan 10 Twibbon Keren Ini, Bisa Kamu Pakai dari Sekarang
Kuliner setelah beribadah
Nasi lesah menjadi kuliner wajib Waisak sebenarnya terjadi secara tidak sengaja.
Perayaan Waisak dipusatkan di Candi Borobudur.
Setelah upacara Waisak, para penganut agama Buddha akan keluar dari kompleks candi.
Artikel Terkait
Masih Takut Terbang? Ini 7 Cara Ampuh Bikin Kamu Lebih Tenang Saat Naik Pesawat
Ini yang Harus Diperhatikan Saat Membeli Tripod Khusus untuk Traveling
5 Kuliner Lampung Selatan, Didominasi Bahan Dasar Ikan dan Durian
Hopping Island di Kaki Pulau Sumatra yang Masuk Wilayah Lampung, Serasa Istirahat di Pulau Pribadi
4 Tempat Makan Bakso di Wonogiri, Pusatnya Penjual Bakso yang Katanya Paling Enak di Indonesia
Jangan Asal, Memilih Hewan Kurban Harus Sesuai Syariat, Simak Tips Berikut Agar Mendapatkan Sapi dan Kambing yang Sehat