Budaya Suku Dani
Lembah Baliem tempat tinggal suku Dani atau masyarakat setempat menyebut dirinya Hubula atau Wio.
Nama Dani sendiri diberikan para ekspedisi dari Amerika-Belanda yang datang pada tahun 1926.
Nama ini diambil dari bahasa Moni yaitu, Ndani yang artinya arah timur matahari terbit.
Suku Dani masih mempertahankan tradisi dan budaya neolitikum.
Baca Juga: Ragam Kuliner Wajib Dicicipi di Taiwan, Mudah Ditemukan Sampai di Level Kaki Lima
Mereka tinggal secara komunal di rumah adat honai yang berbentuk seperti jamur dan terbuat dari rumbai-rumbai.
Para pria menggunakan koteka dan perempuannya mengenakan baju dari rumbai-rumbai jerami.
Untuk memasak, suku Dani menggunakan teknik bakar batu di mana batu-batu besar dipanaskan.
Baca Juga: Berniat Mendaki ke Gunung Gede Pangrango? Catat Tanggalnya! Pendakian Sedang Ditutup
Setelah itu makanan yang hendak dimasak di tumpuk di atas batu panas.
Masih berlaku pula tradisi memotong jari tangan sebagai ungkapan duka bila salah satu anggota keluarga meninggal.
Di suku ini tersimpan mumi bernama Wim Matok Mabel yang berumur lebih dari 300 tahun.
Sebelum menjadi mumi, ia merupakan seorang panglima perang.
Baca Juga: 4 Pasar Malam Terbaik dan Paling Populer di Taipei, Taiwan
Artikel Terkait
Kali Biru Genyem: Jernih dan Berkilau Bak Berlian, Inilah Air Pemberian Tuhan di Bumi Papua
Pantai di Papua Ini Pernah Menjadi Titik Awal Penyerangan ke Filipina di Masa Perang Dunia II
Awas Bahaya Malaria, Penyakit Endemik yang Masih Mengintai di Papua
Pesona Raja Ampat! Alam Papua yang Tak Seharusnya Dirusak Aktivitas Pertambangan
Hewan Langka dari Papua, Dilindungi Karena Jumlahnya yang Makin Sedikit dan Tidak Hidup di Daerah Lain
Mengenal Cita Rasa Asli Timur Indonesia: Makanan Khas Papua yang Unik dan Menggugah Selera