Padahal, perekrut ingin melihat bahwa pelamar memahami posisi yang dilamar dan telah menyesuaikan CV-nya sesuai kebutuhan perusahaan.
Penggunaan frasa umum seperti “hard-working”, “team player” tanpa bukti juga jadi sinyal negatif karena terasa klise dan tak menunjukkan pencapaian nyata.
Sebelum mengirim, ada baiknya untuk membaca ulang deskripsi pekerjaan, tarik kata-kunci penting, dan soroti pengalaman atau skill yang cocok dengan posisi tersebut.
Baca Juga: Tempat Wisata di Quenzon City, Kawasan Budaya di Manila dengan Beragam Bangunan Bersejarah
3. Kurang Fokus pada Pencapaian & Angka
Banyak CV lulusan baru mengulang tugas atau tanggung-jawab tanpa menunjukkan hasil konkret.
Contohnya: “Bertanggung-jawab atas media sosial” versus “Meningkatkan engagement Instagram sebesar 45% dalam 3 bulan” — yang mana lebih kuat?
Perekrut ingin melihat apa yang sudah Anda capai, bukan hanya apa yang Anda lakukan.
Gunakan angka, persentase, atau contoh konkret untuk menunjukkan dampak Anda.
Baca Juga: Tampak Biasa dari Bawah, Tapi Lihat Pemandangan dari Puncak Gunung Pegat!
4. Kesalahan Tata Bahasa, Ejaan dan Informasi Pribadi yang Tidak Tepat
CV yang penuh typo, campur aduk tenses (masa kini dan lampau), atau data kontak yang salah dapat menimbulkan kesan ceroboh.
Misalnya menggunakan email yang kurang profesional seperti “[email protected]” bisa menjadi penghambat pertama.
Semak ulang CV Anda secara menyeluruh: minta orang lain baca, gunakan aplikasi pemeriksa ejaan/gramatika, dan pastikan header kontak Anda sesuai.
Baca Juga: Ragam Tempat Menuju Puncak Bromo yang Menawarkan Pemandangan Indah Berbeda-beda
Artikel Terkait
Damainya Malam di Pantai Labuana, Tempat Camping Favorit Pecinta Alam
Tempat Wisata di Quenzon City, Kawasan Budaya di Manila dengan Beragam Bangunan Bersejarah
Tampak Biasa dari Bawah, Tapi Lihat Pemandangan dari Puncak Gunung Pegat!
4 Kota di Asia yang Masuk Daftar City of Gastronomy oleh UNESCO
Surga Pesisir di Bali Selatan: 5 Pantai Cantik untuk Menemani Liburanmu