Isra Miraj: Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW yang Menguatkan Iman Umat Islam

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Sabtu, 17 Januari 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi - Sejarah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, latar belakang, kronologi perjalanan, hingga hikmah pentingnya sholat bagi umat Islam. (Freepik/freepik)
Ilustrasi - Sejarah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, latar belakang, kronologi perjalanan, hingga hikmah pentingnya sholat bagi umat Islam. (Freepik/freepik)

Kabar BUMN - Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam yang sarat makna spiritual dan keteguhan iman.

Perjalanan luar biasa ini terjadi pada masa yang sangat berat dalam dakwah Nabi Muhammad SAW.

Melalui Isra Mi’raj, Allah SWT memberikan penguatan sekaligus perintah penting yang menjadi fondasi ibadah umat Islam hingga kini.

Baca Juga: Tips Ampuh Mencegah Bau Badan, Tetap Segar dan Percaya Diri Seharian

Makna dan Gambaran Umum Isra Mi’raj

Isra Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, dimulai dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke langit ketujuh hingga mencapai Sidratul Muntaha untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT. Peristiwa ini menjadi bukti kekuasaan Allah sekaligus kemuliaan Rasulullah SAW sebagai penutup para nabi.

Baca Juga: Dorong Daya Saing UMK, BPJPH dan SUCOFINDO Serahkan Sertifikat Halal untuk Kantin DPR RI

Kondisi Berat di Balik Terjadinya Isra Mi’raj

Sebelum Isra Mi’raj terjadi, Rasulullah SAW menghadapi masa penuh kesedihan yang dikenal sebagai amul huzni atau tahun duka cita.

Salah satu peristiwa paling menyayat adalah wafatnya Khadijah binti Khuwailid, istri tercinta yang selama ini menjadi penopang utama dakwah. Kehilangan ini membuat Rasulullah SAW kehilangan sosok pendamping, penguat, dan pemberi ketenangan.

Baca Juga: Bulan K3 Nasional, PHE Perkuat Budaya Operational Excellence Melalui Berbagai Kegiatan

Duka itu semakin mendalam dengan wafatnya Abu Thalib, paman yang selama ini melindungi Rasulullah SAW dari tekanan kaum Quraisy.

Kepergian Abu Thalib membuat posisi dakwah semakin sulit karena perlindungan sosial semakin melemah.

Di tengah kondisi tersebut, penolakan keras juga dialami Rasulullah SAW saat berdakwah ke Thaif, bahkan beliau dan Zaid bin Haritsah mengalami pengusiran serta perlakuan kasar.

Baca Juga: PELNI Gelar Sayembara Poster K3 Nasional, Total Hadiah Puluhan Juta Rupiah

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini