Selikuran, Tradisi Jawa dalam Menyambut Malam Lailatul Qadar

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Minggu, 8 Maret 2026 | 18:30 WIB
Keraton Yogyakarta dan Solo punya acara khusus setiap malam selikuran.  (Facebook/Kraton Jogja)
Keraton Yogyakarta dan Solo punya acara khusus setiap malam selikuran. (Facebook/Kraton Jogja)

Kabar BUMN - Malam lailatul qadar dipercaya bernilai lebih baik dari seribu bulan karenanya sangat penting saat Ramadan.

Dalam tradisi Jawa, malam lailatur qadar dirayakan secara istimewa lewat acara selikuran.

Di malam ini masyarakat berkumpul dan beribadah bersama dengan hidangan spesial.

Di Keraton Solo dan Yogyakarta pun diselenggarakan acara kirab atau arak-arakan khusus.

Baca Juga: 4 Kudapan Kekinian di Jakarta yang Masih Sulit Ditemukan di Daerah Lain, Bisa Dijadikan Oleh-oleh

Warisan Wali Songo
Acara selikuran pertama kali diperkenalkan Wali Songo pada saat menyebarkan agama Islam.

Pada malam tersebut, Wali Songo mengajak masyarakat berkumpul, makan bersama, sekalian menyampaikan dakwah.

Dalam bahasa Jawa selikur artinya dua puluh satu.

Baca Juga: 7 Tips Mengatasi Rasa Kantuk Berlebihan Saat Puasa Ramadan agar Tetap Produktif

Selikuran artinya malam ke-21, sesuai hari pelaksanaan acara, yaitu malam ke 21 di bulan Ramadan.

Malam selikuran dimulai setelah azan magrib dan berbuka puasa.

Pada malam ini semua masyarakat berkumpul bersama di masjid, pos ronda, atau satu tempat khusus.

Masyarakat berdoa, membawa beragam hidangan, diakhiri dengan menikmati hidangan.

Baca Juga: Wisata Nimo Eye Pangalengan Gelar Promo Eid Fun Fest, Tiket Gratis Menanti

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Tags

Artikel Terkait

Terkini