Kabar BUMN - Malam lailatul qadar dipercaya bernilai lebih baik dari seribu bulan karenanya sangat penting saat Ramadan.
Dalam tradisi Jawa, malam lailatur qadar dirayakan secara istimewa lewat acara selikuran.
Di malam ini masyarakat berkumpul dan beribadah bersama dengan hidangan spesial.
Di Keraton Solo dan Yogyakarta pun diselenggarakan acara kirab atau arak-arakan khusus.
Baca Juga: 4 Kudapan Kekinian di Jakarta yang Masih Sulit Ditemukan di Daerah Lain, Bisa Dijadikan Oleh-oleh
Warisan Wali Songo
Acara selikuran pertama kali diperkenalkan Wali Songo pada saat menyebarkan agama Islam.
Pada malam tersebut, Wali Songo mengajak masyarakat berkumpul, makan bersama, sekalian menyampaikan dakwah.
Dalam bahasa Jawa selikur artinya dua puluh satu.
Baca Juga: 7 Tips Mengatasi Rasa Kantuk Berlebihan Saat Puasa Ramadan agar Tetap Produktif
Selikuran artinya malam ke-21, sesuai hari pelaksanaan acara, yaitu malam ke 21 di bulan Ramadan.
Malam selikuran dimulai setelah azan magrib dan berbuka puasa.
Pada malam ini semua masyarakat berkumpul bersama di masjid, pos ronda, atau satu tempat khusus.
Masyarakat berdoa, membawa beragam hidangan, diakhiri dengan menikmati hidangan.
Baca Juga: Wisata Nimo Eye Pangalengan Gelar Promo Eid Fun Fest, Tiket Gratis Menanti
Artikel Terkait
Mengenal Malam Lailatul Qadar di Bulan Ramadan, Apa Itu?
Meraih Kemuliaan Malam Lailatul Qadar dengan Amalan Ini
4 Festival Budaya di Indonesia, Melestarikan Budaya dan Tradisi Lama
Rayakan Tradisi Padusan di Klaten, Berikut 7 Umbul Terbaik untuk Menyucikan Diri Jelang Ramadan
5 Tradisi Ramadan di Indonesia yang Sarat Makna Kebersamaan