Dia kemudian membangun rumah besar di atas tahan seluas 5.000 meter, hasil hibah pemerintah kolonial Belanda.
Di tempat inilah keluarganya hidup sampai keturunan ke tujuh hingga sekarang.
Baca Juga: Horor itu Dulu, Sekarang Roemah Kentang 1908 di Bandung Sudah Menjadi Tempat Makan yang Aesthetic
Menjadi cagar budaya
Rumah Marga Tjhia ini masih terus dipelihara dan dijaga bentuknya sejak awal dibangun.
Karena umurnya yang sudah tua dan arstitekturnya yang unik, rumah ini dinobatkan sebagai cagar budaya di Singkawang.
Rumah Marga Tjhia ini terdiri atas tiga bangunan.
Baca Juga: Balai Pelestarian Kebudayaan Lakukan Pemutakhiran Data Cagar Budaya ke Gedung PTPN XI
Ada bangungn utama yang terdiri atas dua aula besar.
Aula pertama untuk kantor dagang dan sekarang berubah menjadi aula untuk berbagai acara.
Sedangkan aula kedua lokasinya sedikit di belakang, untuk tempat altar abu leluhur marga Tjhia.
Baca Juga: Bangunan-Bangunan Ikonik dan Tertua di Jakarta, Umurnya Lebih dari 100 Tahun
Dua dari tiga bangunan berfungsi sebagai tempat tinggal.
Keturunan keempat dan ketujuh dari marga Tjhia pun masih tinggal di sana.
Kadang pengunjung pun masih bisa bertemu dengan mereka.