Penjara bagi pribumi di masa penjajahan Jepang
Sebelum digunakan Jepang, penjara berdiri merupakan pondasi gedung dengan genangan air untuk penyejuk.
Setelah Jepang datang, tempat ini dijadikan penjara. Tawanan ditempatkan pada posisi berdiri.
Setiap ruangan ukurannya hanya 1 x1 meter dan dibuat berjejer. Dalam satu ruangan ada 6-7 orang.
Penjara kedua, penjara jongkok. Ukurannya sedikit lebih besar yaitu 1,5 meter tapi tingginya hanya 1 meter.
Baca Juga: Rekomendasi Wisata Religi Semarang untuk Semua Pemeluk Agama
Tawanan yang ditempatkan di sini hanya bisa jongkok.
Sementara ruangan ini selalu terisi air hingga leher dan penjara ditutup dengan terali besi.
Terakhir, ruang penyiksaan. Bentuknya persegi empat dilengkapi tempat memasung kepala.
Konon setelah dipasung, badan dan kepala tahanan dibuang ke sungai di sebelah gedung.
Arwah gentanyangan
Ketika ruang bawah tanah berfungsi sebagai penjara ini banyak tawanan yang meninggal.
Dipercaya arwah mereka gentayangan di sepanjang lorong ruang bawah tanah.
Karena bangunan ini tua maka ada banyak bagian yang selalu bocor dan lembab.
Ini tentu saja semakin memberikan kesan dingin dan menyeramkan.
Sering pula tercium bau anyir terutama di sekitar sumur di dekat sini.