ragam

Setelah Sepuluh Tahun, Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu Kembali Dibuka untuk Umum, Saatnya Membuktikan Kisah Mistisnya

Senin, 16 Desember 2024 | 15:30 WIB
Lawang Sewu, salah satu destinasi wisata di Semarang. (visitjawatengah.jatengprov.go.id)

Penjara bagi pribumi di masa penjajahan Jepang
Sebelum digunakan Jepang, penjara berdiri merupakan pondasi gedung dengan genangan air untuk penyejuk.

Setelah Jepang datang, tempat ini dijadikan penjara. Tawanan ditempatkan pada posisi berdiri.

Setiap ruangan ukurannya hanya 1 x1 meter dan dibuat berjejer. Dalam satu ruangan ada 6-7 orang.

Penjara kedua, penjara jongkok. Ukurannya sedikit lebih besar yaitu 1,5 meter tapi tingginya hanya 1 meter.

Baca Juga: Rekomendasi Wisata Religi Semarang untuk Semua Pemeluk Agama

Tawanan yang ditempatkan di sini hanya bisa jongkok.

Sementara ruangan ini selalu terisi air hingga leher dan penjara ditutup dengan terali besi.

Terakhir, ruang penyiksaan. Bentuknya persegi empat dilengkapi tempat memasung kepala.

Konon setelah dipasung, badan dan kepala tahanan dibuang ke sungai di sebelah gedung.

Baca Juga: Vanaprastha Gedong Songo Park, Semarang, Tempat Rekreasi dan Kamping Baru di Komplek Candi Gedongsongo

Arwah gentanyangan
Ketika ruang bawah tanah berfungsi sebagai penjara ini banyak tawanan yang meninggal.

Dipercaya arwah mereka gentayangan di sepanjang lorong ruang bawah tanah.

Karena bangunan ini tua maka ada banyak bagian yang selalu bocor dan lembab.

Ini tentu saja semakin memberikan kesan dingin dan menyeramkan.

Baca Juga: Seharian di Kota Lama Semarang, Bisa Belajar Sejarah, Mencicipi Kuliner hingga Berburu Spot Foto Menarik

Sering pula tercium bau anyir terutama di sekitar sumur di dekat sini.

Halaman:

Tags

Terkini