Kabar BUMN - Masyarakat Solo punya tradisi sendiri dalam merayakan Imlek, yakni Grebeg Sudiro.
Grebeg Sudiro merupakan hasil alkuturasi budaya Jawa dan Tiongkok.
Di hari Imlek, Grebeg Sudiro menjadi acara budaya yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Solo.
Baca Juga: Gong Xi Fa Cai! Pilih Twibbon Tahun Baru Imlek 2025 untuk Hiasi Medsos Kamu, Ini Link-nya
Tradisi dari Kampung Sudiroprajan
Grebeg Sudiro sudah berlangsung sejak tahun 2007 dan menjadi agenda tahunan wisata Solo.
Dalam tradisi Jawa, upacara ucapan syukur ini dilaksanakan saat peristiwa besar seperti Maulud Nabi atau Idulfitri.
Sedangkan nama Sudiro diambil dari nama Kampung Sudiroprajan di dekat Pasar Gede.
Baca Juga: 4 Tempat Kuliner Terkenal di Pecinan Semarang yang Semakin Ramai di Masa Imlek
Karena Kampung Sudiroprajan yang pertama kali mengusulkan diadakannya Grebeg Sudiro.
Pengusung ide ini Oei Bengki, Sarjono Lelono Putro dan Kamajaya.
Ketiganya lalu mendapat dukungan dari kelurahan, budayawan, dan LSM setempat.
Kampung Sudiroprajan memang dikenal sebagai tempat tinggal mayoritas warga etnis Tionghoa di Solo.
Pawai budaya
Jelang perayaan, Kampung Sudiroprajan dihiasi beragam ornamen khas Imlek, seperti lampion dan manik-manik.
Acara Grebeg Sudiro tidak berbeda jauh dengan pakem grebeg lainnya yang diselenggarakan di Solo.