Kabar BUMN - Kepulauan Riau memiliki beragam tradisi menyambut lebaran yang jarang kita temukan di daerah lain. Berikut beberapa tradisi menyambut lebaran yang penuh makna dan masih dilestarikan hingga saat ini di Kepulauan Riau.
Hari Idulftiri menjadi momen suka cita yang ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh belahan dunia, termasuk di Indonesia. Berbagai tradisi digelar untuk menyambut momen lebaran di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu daerah yang menyimpan banyak tradisi menyambut lebaran adalah Kepulauan Riau.
Provinsi yang terdiri dari 7 Kabupaten dan Kota ini memiliki tradisi lebaran unik dan jarang ditemukan di daerah lain. Memiliki budaya Melayu yang masih sangat kental, tak heran kalau masyarakat Kepulauan Riau sangat suka cita dalam menyambut Hari Idulfitri.
Nah, berikut beberapa tradisi lebaran unik yang ada di Kepulauan Riau:
Lampu Colok
Salah satu tradisi menyambut lebaran Kepulauan Riau adalah Lampu Colok. Tradisi menghias lampu dari kaleng bekas ini bisa kita temukan di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Tradisi ini sudah mulai digelar sejak malam 27 Ramadan, masyarakat akan berbondong-bondong membuat lampu dalam berbagai model. Mulai dari miniatur masjid, lafaz Allah, simbol Islam, hingga ayat suci Al-Qur'an.
Warna lampu yang kuning mencolok akan terlihat sangat indah menjelang waktu maghrib. Tak heran kalau terang lampu ini membuat pemandangan sekitar masjid tampak lebih estetik. Bagi masyarakat Kepulauan Riau, tradisi membuat lampu ini melambangkan nilai gotong royong, agamis, dan nilai kebersamaan yang tinggi.
Lampu Cangkok
Tak jauh berbeda dengan Lampu Colok, Lampu Cangkok juga merupakan tradisi yang dilakukan pada malam 21 hingga 27 Ramadan, untuk menyambut lailatul qadar yang kerap dilakukan masyarakat di Bintan, Kepulauan Riau.
Istilah lampu cangkok sebenarnya mengacu pada lampu yang terbuat dari bahan tradisional. Seperti kaleng, botol, bambu, sumbu, dan minyak tanah. Lampu ditempatkan di sepanjang jalan desa dan sekitar masjid, untuk memberi penerangan bagi masyarakat yang beribadah sampai larut malam.
Nyembah Berlari
Tradisi menyambut lebaran di Kepulauan Riau berikutnya adalah tradisi Nyembah Berlari, yakni berlebaran atau bertamu ke sanak saudara saat Idulfitri. Tradisi ini biasanya dilakukan anak-anak usia 5-6 tahun hingga sekolah dasar.
Mereka akan memenuhi pinggiran jalan masjid hingga beramai-ramai mengunjungi teras rumah warga. Uniknya, anak-anak akan membawa kantong kresek, sambil menengadahkan tangan pada tuan rumah. Biasanya, warga yang kedatangan akan memberikan sedekah untuk anak-anak, berupa kue, permen, camilan, hingga uang.
Tepuk Kening