Kabar BUMN - Seperti perayaan agama lain, saat Waisak pun dihidangkan kuliner yang identik dengan perayaan tersebut.
Saat perayaan Waisak dirayakan di Candi Borobudur, Magelang, kuliner yang dihidangkan adalah nasi lesah.
Kuliner Magelang ini hasil alkuturasi antara kekayaan masakan Jawa dan Tiongkok.
Mirip Soto
Tampilan nasi lesah sepintas kombinasi antara opor ayam dan soto kuah kuning. Bedanya di bumbu.
Kuah nasi lesah menggunakan bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, kunyit, ketumbar, lada, pala, dan santan kental.
Selain itu, kuah nasi lesah juga berupa kaldu rebusan ayam kampung.
Penggunaan santan kental membuat kuah nasi lesah terasa sangat gurih dibandingkan soto.
Untuk isinya, ada nasi, toge, tahu, mie putih, dan suwiran ayam. Pelengkapnya tempe mendoan dan kerupuk.
Penjual nasi lesah sudah mulai langka di Magelang.
Beberapa tempat yang masih menjualnya, salah satunya Warung Mbah Sulimh di dekat Candi Borobudur.
Baca Juga: Candi Borobudur Jadi Pusat Perayaan Waisak 2025, Jadi Momentum Perkuat Ekonomi dan Pariwisata
Alkuturasi budaya Tionghoa
Nasi lesah hasil adaptasi kuliner Tionghoa bernama caudo atau jau to.
Kata ini diambil dari dialek Hokkian yang berarti jeroan berempah.