ragam

Tradisi Unik Meminta Hujan di Indonesia, Dilakukan di Masa Kemarau Panas dan Panjang

Minggu, 25 Mei 2025 | 07:00 WIB
Tradisi gebug ende dilakukan masyarakat Bali, tepatnya di Desa Serasa, Kabupaten Karangasem. (pejarakan-buleleng.desa.id)

Dalam tradisi Muwon Namo, warga Suku Batin Sembilan di Jambi melarung relief naga ke Sungai Batanghari. (indonesiakaya.com)

2. Muwon Namo
Muwon namo dilakukan Suku Batin Sembilan di Jambi, sayangnya sempat hampir punah.

Tradisi kuno ini dihidupkan lagi sejak adanya Festival Suku Batin di Desa Muaro Singoan, Kabupaten Batanghari.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Majapahit dan tertulis dalam legenda Raden Ontar.

Dipercaya suku Batin Sembilan merupakan keturunan salah satu anak Raden Ontar yang berjumlah sembilan.

Baca Juga: Kalau Lewat Jalur Jalan Terindah di Indonesia Ini Belum Sampai Tempat Wisata pun Mata Sudah Puas Memandangi Keindahan

Dalam tradisi Muwon Namo, warga melarung relief naga ke Sungai Batanghari.

Relief dibuat dari tanah dan dibacakan mantra sakral oleh tokoh adat.

Sebelum dilarung, relief naga disiram air sungai dulu.

Ini menyimbolkan harmonisasi antara manusia, alam, dan kepercayaan leluhur.

Baca Juga: Masjid-masjid Indah di Indonesia untuk Wisata Religi saat Libur Lebaran

Di tradisi cowongan, sejumlah orang akan menggoyang-goyangkan boneka sambil menyanyikan syair doa untuk meminta hujan. (cilacapkab.go.id)

3. Cowongan
Nama cowongan diambil dari kata cowang coweng yang artinya corat woret di wajah boneka cowong.

Tradisi dari Banyumas, Jawa Tengah, ini biasanya dilakukan di Jumat Kliwon di bulan Kapat, sesuai kalender Jawa.

Saat ritual, masyarakat membuat boneka dari sendok sayur atau gayung dari batok kelapa.

Baca Juga: Hebat! Masjid-masjid di Luar Negeri Ini Dibangun Pemerintah dan Komunitas Indonesia, Sarana Penyebaran Agama Islam di Dunia

Halaman:

Tags

Terkini