Pasar ini berlokasi di Bukit Mbah Garut dan hanya beroperasi tiap Minggu dari pukul 07.00 sampai 12.00 WIB.
Baca Juga: Liburan Makin Seru dan Hemat! Intip 4 Promo Kereta Cepat Whoosh yang Berlaku Sampai Juli 2025
Seperti Campernik, pasar ini juga berada di hutan bambu dan menghadirkan suasana tenang dan alami.
Kuliner yang dijajakan di sini nggak kalah menarik, mulai dari surabi, awug, leupeut, es goyobod, sampai bandrek.
Semua makanan dibungkus dengan kemasan ramah lingkungan. Untuk menikmati jajanan tersebut, pengunjung wajib menukar uang dengan koin bambu yang digunakan sebagai alat transaksi di area pasar.
Manfaat Ekonomi dan Pelestarian Budaya
Pasar-pasar tradisional ini nggak cuma menawarkan pengalaman liburan yang berbeda, tapi juga mendukung UMKM dan masyarakat lokal.
Para pedagang yang berjualan berasal dari sekitar wilayah tersebut, dan sistem koin bambu ikut memperkenalkan konsep ekonomi kreatif.
Baca Juga: PTPN IV Regional III Raih Juara Dua dalam Ajang Bergengsi Investasi Industri Hilir Riau
Di Pasar Padaringan misalnya, perputaran uang dalam satu kali pembukaan pasar bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Selain membantu roda ekonomi, kegiatan ini juga turut mengenalkan kembali budaya Sunda kepada generasi muda melalui konsep pasar jadul yang menyenangkan.
Tips Berkunjung dan Informasi Tambahan
Baca Juga: Perayaan HUT ke-17 Pertamina Drilling Digelar dengan Nuansa Sederhana dan Penuh Makna
Kalau kamu tertarik mampir, jangan lupa untuk mengecek jadwal bukanya terlebih dahulu lewat media sosial resmi kedua pasar tersebut.