ragam

Sejarah dan Fakta Asinan Betawi yang Ternyata Mengadopsi Cara Mengolah Makanan Masyarakat Tionghoa

Jumat, 20 Juni 2025 | 08:30 WIB
Asinan Betawi diperkirakan muncul sekitar abad ke-18 dan ke-19. (Instagram/@dapoer_ibu123)

Kabar BUMN - Kalau tinggal di Jakarta atau daerah di pinggirnya, masih mudah menemukan asinan, bahkan di kaki lima.

Asinan Betawi ini masih terus dicari setiap harinya untuk makanan selingan, terutama di siang ke sore hari.

Seperti sejumlah kuliner Betawi, asinan juga mendapat pengaruh kuat dari kuliner Tiongkok.

Ini fakta dan sejarah menarik tentang asinan Betawi yang pedas-pedas menyegarkan.

Baca Juga: Penjual Asinan Betawi di Jakarta yang Populer dan Selalu Diantri Pembeli, Rasanya Tetap Sama Sejak Dulu

Hidangan menyegarkan
Asinan Betawi diperkirakan muncul sekitar abad ke-18 dan ke-19.

Seporsi asinan kebanyakan berisi timun, wortel, kol, bengkoang, nanas, sawi asin, selada, dan toge.

Seluruh bahan itu dihidangkan dengan disiram saus kacang encer.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Kuliner Khas Betawi yang Wajib Kamu Coba Saat Berkunjung ke Jakarta

Saus ini terbuat dari kacang tanah, gula merah, cabai rawit, air asam, dan garam.

Untuk melengkapinya, asinan ditutupi potongan kerupuk mie kuning dan kerupuk merah.

Teknik membuat asinan ini ternyata metode yang digunakan orang Tionghoa zaman dulu.

Baca Juga: Tidak Lekang Tergerus Zaman, Budaya dan Kesenian Betawi Ini Masih Bisa Didapati Meskipun Sesekali Saja Pertunjukannya

Agar tidak mudah basi, makanan direndam dalam cairan atau difermentasi dengan air cuka dan asam garam.

Teknik ini yang diadaptasi masyarakat Betawi untuk membuat kuah asinan.

Pengaruh lain terlihat pada penggunaan sawi asin, sayuran khas warga Tionghoa.

Halaman:

Tags

Terkini