Kawasan khusus pecinan
Glodok menjadi daerah Pecinan setelah terjadinya peristiwa pembantaian Tionghoa tahun 1740.
Peristiwa pembunuhan besar-besaran oleh pemerintah Hindia Belanda itu dikenal dengan nama Geger Pecinan.
Setelah itu, untuk bisa mengatur dan mengawasi lebih ketat kelompok ini, Belanda menempatkan orang Tionghoa di daerah Glodok.
Di pemukiman ini mereka bisa mendirikan rumah, berbisnis dan melakukan aktivitas sosial lainnya.
Baca Juga: Jauh Sebelum TransJakarta dan MRT, Ini Angkutan Umum yang Pernah Berjaya di Jakarta
Belanda juga membuat aturan, hanya di daerah tersebut orang Tionghoa boleh membangun rumah.
Kelompok tersebut perlu izin khusus bila ingin keluar dari kawasan pecinan.
Belanda juga memilih seorang Kapitan Tionghoa untuk mengawasi keteraturan dan keamanan di kawasan.
Kawasan ini hingga masa kemerdekaan dan sampai sekarang berubah menjadi daerah pecinan.
Baca Juga: Bisa Bermain Lebih Lama Bahkan Sampai Tengah Malam, Ini Taman di Jakarta yang Buka 24 Jam
Pusat perdagangan elektronik terbesar
Munculnya radio, televisi, lemari es, dan produk eletronik di tahun 1970-an mengubah Glodok jadi pusat elektronik.
Saat itu perekonomian masyarakat mulai membaik dan permintaan barang-barang elektronik meningkat.
Ini yang pada akhirnya membuat banyak toko elektronik tumbuh subur di Glodok.
Baca Juga: Sejarah dan Ragam Motif Batik Betawi, Berkembang dari Masa ke Masa Dipengaruh Budaya Negara dan Daerah Lain
Tahun 1990-an, Glodok Plaza menjadi salah satu pusat perdagangan elektronik terbesar di Asia Tenggara.
Sayangnya setelah era digital secara perlahan pesona Glodok mulai redup.