Kabar BUMN - Gas air mata kerap digunakan aparat sebagai senjata pengendali massa saat terjadi kericuhan atau demonstrasi.
Meski dirancang untuk bersifat sementara, kenyataannya gas air mata menyimpan beragam risiko bagi tubuh manusia.
Dari iritasi ringan hingga ancaman serius pada organ vital, dampaknya bisa berbahaya terutama bila digunakan di luar prosedur.
Baca Juga: Water Blow Peninsula Nusa Dua Dibuka Lagi, Sajikan Atraksi Ombak Setinggi 8 Meter
Efek Langsung pada Tubuh
Begitu terkena paparan gas air mata, reaksi instan yang paling sering muncul adalah rasa perih pada mata, keluarnya air mata berlebih, serta gangguan penglihatan sementara.
Selain itu, saluran pernapasan juga akan merasakan dampak signifikan seperti batuk, sesak napas, hingga rasa terbakar di hidung dan tenggorokan. Efek ini biasanya muncul dalam hitungan detik setelah terhirup.
Baca Juga: ASDP Beri Relaksasi Aturan Tiket di Pelabuhan Merak, Penumpang Tetap Bisa Menyebrang
Dampak pada Kulit dan Sistem Pencernaan
Kontak dengan kulit dapat memicu iritasi, kemerahan, atau rasa terbakar. Pada beberapa orang dengan kulit sensitif, ruam dan luka lepuh bisa terjadi.
Jika secara tidak sengaja tertelan melalui makanan atau air yang terkontaminasi, gas air mata bisa menimbulkan mual, muntah, hingga diare.
Baca Juga: Pertamina Drilling Berdayakan Putra Papua, 49 Peserta Lokal Kini Bersertifikat Migas
Ancaman Serius bagi Sistem Pernapasan
Meski efeknya umumnya hilang setelah menjauhi area paparan, risiko serius muncul bila gas air mata dihirup dalam jumlah besar atau dalam ruangan tertutup.
Kondisi ini bisa menyebabkan edema paru (penumpukan cairan di paru-paru), asma kambuh, hingga kegagalan pernapasan. Pada individu dengan riwayat penyakit paru-paru, paparan gas air mata dapat berakibat fatal.
Baca Juga: Daftar Magang di PT Pupuk Kalimantan Timur, Dukung Program Makmur untuk Pertanian Berkelanjutan
Risiko Jangka Panjang
Paparan berulang atau dalam konsentrasi tinggi dapat menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang.