Biasanya barista akan menggunakan teknik manual brewing, misalnya pour over atau drip.
Saat melakukan semua itu pembeli kopi bisa melihat semua prosesnya.
Ini menjadi pengalaman holistik yang luar biasa, karenanya pembeli kopi di slow bar bukan tipe yang buru-buru.
Baca Juga: Keunikan Curug Sodong, Si Air Terjun Kembar yang Mengalir di Antara Bebatuan Geopark Ciletuh
Interaksi dengan barista
Perbedaan utama slow bar dengan coffee shop biasa adalah interaksi antara barista dengan pembeli.
Barista tidak hanya membuatkan kopi dalam waktu singkat tapi juga mengobrol.
Tidak jarang barista akan bertanya favorit atau mood pembeli saat itu untuk menentukan racikan kopinya.
Baca Juga: 3 Destinasi Luar Negeri yang Jarang Dilirik Wisatawan Indonesia, Alamnya Cantik dan Masih Sepi Turis
Mereka akan menjelaskan jenis biji kopi yang digunakan, asal kopi, dan hal detail lainnya.
Karena itu barista di slow bar punya kemampuan dan jam terbang yang lebih dibandingkan barista lain.
Sering kali pemilik slow bar juga yang menjadi barista.
Baca Juga: Dari Kampus ke Kantor, 6 Cara Beradaptasi di Dunia Kerja Bagi Fresh Graduate
Pengaruh pandemi
Di Indonesia, konsep slow baru baru muncul sekitar 2019.
Pada masa itu pandemi mulai melanda dunia. Para pecinta kopi tidak bisa lagi nongkrong di coffee shop.
Mereka terpaksa menyeduh kopinya sendiri – dan membuatnya jadi ahli meracik kopi dengan cara manual atau manual brew.
Baca Juga: 4 Festival Budaya di Indonesia, Melestarikan Budaya dan Tradisi Lama