Kabar BUMN - Selain masyarakat Jawa, keturunan Tionghoa termasuk yang sudah lama mendiami Surabaya.
Keberadaan masyarakat Tionghoa ini turut membentuk kuliner peranakan di Surabaya.
Mulai dari makanan berat seperti lontong mie, tahu tek sampai makanan ringan, seperti otek-otek dan lapis surabaya.
Baca Juga: Lagi Ngetren! Serunya Foto di Malioboro Pakai Baju Adat Jawa, Ini Tempat Sewanya
1. Lapis Surabaya
Cake ikonik Surabaya ini uniknya tidak hanya mendapat pengaruh dari Tionghoa tapi juga dari Belanda.
Lapis surabaya mendapat inspirasi dari kue Belanda, spekkoek.
Cita rasanya manis dan tekturnya lembut dengan aroma bumbu rempah yang tajam.
Bumbu spekkoek terdiri atas campuran kayu manis, pala, cengkeh, dan kapulaga.
Baca Juga: Biji dan Bubuk Kopi yang Diproduksi dan Dijual Selebriti Hollywood, Sebagian untuk Tujuan Amal
Pada zaman Hindia Belanda sejumlah peranakan Tionghoa yang pertama kali membuat lapis Surabaya.
Ciri khasnya di tiga lapisan cake dan di tengahnya diberi selai stroberi.
Saat ini pembuat lapis Surabaya tidak terbatas pada warga peranakan tapi semua jenis kalangan.
Lapis surabaya pun tidak hanya bisa ditemukan di kota Surabaya tapi di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Serunya Belajar Bertani di Tengah Kota, Yuk ke Agroeduwisata Ragunan!