Kabar BUMN - Begadang sudah jadi kebiasaan banyak anak muda, entah karena tugas kuliah, pekerjaan, gaming, atau scroll media sosial sampai larut malam.
Kebiasaan ini sering dianggap sepele, padahal begadang punya dampak besar terhadap kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Tanpa disadari, tubuh yang terus dipaksa terjaga mengalami gangguan yang bisa berpengaruh pada produktivitas, suasana hati, bahkan risiko penyakit serius di masa depan.
Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Guangzhou, Cita Rasa Kuliner Kanton Autentik
Salah satu dampak paling terasa dari begadang adalah penurunan fungsi kognitif. Ketika kamu kurang tidur, otak jadi sulit berkonsentrasi, memproses informasi lebih lambat, dan kemampuan mengambil keputusan menurun.
Anak muda sering menganggap bisa “balas dendam tidur” di akhir pekan, padahal sistem tubuh tidak bekerja seperti itu.
Kekurangan tidur bertumpuk dan menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai sleep debt, yang pada akhirnya membuat tubuh lebih cepat lelah dan tidak bertenaga.
Baca Juga: PLN Dorong Perluasan Kolaborasi untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Begadang juga memengaruhi kesehatan emosional tanpa kamu sadari. Kurang tidur membuat suasana hati lebih mudah berubah, meningkatkan risiko stres, hingga memicu kecemasan.
Di usia produktif, kondisi mental sangat berpengaruh pada kualitas belajar dan pekerjaan.
Tidur yang cukup membantu tubuh mengatur hormon stres dan menjaga stabilitas mood agar kamu bisa menjalani aktivitas dengan lebih seimbang dan fokus.
Baca Juga: Liburan Seru di Bekasi! Intip Wahana & Harga Tiket Terbaru Go! Wet Waterpark
Selain itu, begadang meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit. Kurang tidur mengganggu metabolisme tubuh sehingga memicu kenaikan berat badan, memperburuk kondisi kulit, dan membuat sistem kekebalan melemah.
Anak muda yang sering begadang lebih rentan terkena flu, infeksi ringan, hingga masalah kesehatan serius seperti diabetes dan tekanan darah tinggi jika kebiasaan ini berlangsung dalam jangka panjang.
Kurang tidur juga membuat tubuh sulit memperbaiki sel-sel yang rusak, sehingga pemulihan setelah sakit atau olahraga jadi lebih lambat.