- Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo
- Desa Pandansari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan
- Desa Sadeng, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan
Sebelum resmi dikukuhkan, mereka harus melewati sejumlah tahapan adat dan ujian khusus sebagai syarat menjadi pemimpin spiritual umat Hindu Tengger.
Baca Juga: Dari Gelap Menuju Terang, 149 Keluarga di Noemuke Kini Nikmati Listrik PLN 24 Jam
Setelah pengukuhan selesai, para Dukun Pandita memberikan pelayanan spiritual kepada umat yang akan mengikuti ritual utama, yakni labuh sesaji ke Kawah Gunung Bromo.
Labuh Sesaji Jadi Puncak Upacara
Ritual labuh sesaji menjadi bagian paling ikonik sekaligus sakral dalam Yadnya Kasada. Pada prosesi ini, masyarakat Tengger mempersembahkan hasil bumi, ternak, hingga berbagai sesaji ke kawah Gunung Bromo.
Baca Juga: BNI dan PBSI Dorong Regenerasi Atlet, Indonesia Open 2026 Jadi Panggung Talenta Muda
Persembahan tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen, rezeki, serta perlindungan yang dipercaya diberikan oleh Tuhan.
Selain bernilai spiritual, ritual ini juga menjadi daya tarik budaya yang selalu menyedot perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
Sejarah Yadnya Kasada dan Legenda Jaka Seger-Rara Anteng
Baca Juga: BNI dan PBSI Dorong Regenerasi Atlet, Indonesia Open 2026 Jadi Panggung Talenta Muda
Tradisi Yadnya Kasada memiliki akar sejarah yang erat dengan legenda masyarakat Tengger mengenai pasangan Jaka Seger dan Rara Anteng.
Nama “Tengger” dipercaya berasal dari gabungan nama keduanya, yakni akhiran “teng” dari Rara Anteng dan “ger” dari Jaka Seger.
Menurut kisah turun-temurun, Rara Anteng merupakan putri Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke Pegunungan Tengger setelah runtuhnya kerajaan tersebut. Ia kemudian diasuh oleh seorang pandhita bernama Resi Dadap Putih.
Di sisi lain, Jaka Seger disebut sebagai pemuda asal Kediri yang datang ke Pegunungan Tengger untuk mencari pamannya. Keduanya kemudian menikah, tetapi lama tidak memiliki keturunan.
Pasangan ini akhirnya meminta petunjuk kepada Empu Baradah dan melakukan meditasi di kawah Gunung Bromo untuk memohon keturunan kepada para dewa. Permohonan tersebut dikabulkan hingga mereka memiliki 25 anak.
Namun, terdapat janji yang harus dipenuhi, yakni mengorbankan salah satu anak ke kawah Bromo. Ketika janji itu tidak ditepati, Gunung Bromo meletus dan mengambil anak bungsu mereka, Raden Kesuma.