Sebelumnya, PHR telah melakukan tajak sumur pertama eksplorasi MNK yakni sumur Gulamo DET-1, yang berlokasi di Rokan Hilir pada Juli 2023 lalu.
Pengeboran sumur Gulamo DET-1 ini juga menggunakan rig Pertamina Drilling PDSI #42.3/N1500-E berkapasitas besar dengan tenaga 1.500 HP mencapai kedalaman pengeboran hingga 8.559 kaki ke dalam perut bumi dengan tipe sumur eksplorasi vertikal.
MNK merupakan migas yang diusahakan dari reservoir tempat terbentuknya dengan permeabilitas rendah (low permeability).
Perbedaan mendasar antara hidrokarbon konvensional dan nonkonvensional adalah bahwa hidrokarbon konvensional terbentuk di batuan sumber dan bermigrasi ke batuan penyimpan (reservoir) sedangkan hidrokarbon nonkonvensional terbentuk dan tersimpan di batuan yang sama.
Baca Juga: Terus Majukan Kualitas Mitra Binaan, Pertamina Dampingi Ribuan UMKM Binaan Raih Sertifikat Halal
Oleh karena itu, hidrokarbon nonkonvensional tidak memerlukan struktur perangkap layaknya hidrokarbon konvensional.
Selain itu, hidrokarbon nonkonvensional terperangkap pada batuan dengan porositas dan permeabilitas yang sangat rendah sehingga membutuhkan teknologi tinggi untuk mengeksploitasinya.
Program MNK ini diharapkan mampu meningkatkan produksi dan menambah cadangan migas nasional dan upaya pencapaian target pemerintah yakni produksi 1 juta barel minyak per hari di tahun 2030.***
Artikel Terkait
Peluang Masih Terbuka, Segera Daftarkan Diri di Program Beasiswa Sobat Bumi 2024 dari Pertamina Bagi Mahasiswa Berprestasi
Partisipasi dalam Kegiatan KLHK dan BRGM, Pertamina Hulu Rokan Tanam Pohon Sagu di Lahan Gambut di Pulau Terluar Indonesia
Gelar Grand Safety Talk, Kilang Pertamina Unit Balikpapan Siap Integrasikan Instalasi Kilang Baru
Terus Majukan Kualitas Mitra Binaan, Pertamina Dampingi Ribuan UMKM Binaan Raih Sertifikat Halal
Langkah Baru ITDC: Seremoni Serah Terima Jabatan General Manager The Mandalika di Pertamina Mandalika International Circuit