Ia mengungkapkan bahwa data menunjukkan saat ini rata-rata hanya 19% dari lulusan di bidang STEM dan 50 persennya itu memilih sektor energi.
Isu ketiga, sambung Nicke, adalah keseimbangan kerja dan kehidupan.
Baca Juga: Program BRI Peduli BRInita Jadi Wadah Berkarya Para Wanita Tangguh
"Sebagai seorang perempuan secara alami kita juga memiliki peran strategis sebagai pekerja perempuan dan ibu, dan kita harus membuatnya seimbang," tandasnya.
Nicke menekankan pentingnya pendidikan dan sistem yang mendukung kaum perempuan untuk menyeimbangkan peran tersebut.
Isu keempat adalah kebijakan di tempat kerja.
Baca Juga: Mengenal Jasamarga Integrated Digitalmap, Sistem Transportasi Cerdas untuk Rekayasa Lalu Lintas
"Sebagai contoh, di Pertamina, kami memiliki kebijakan yang harus dihormati, yaitu kebijakan respectful workplace policy. Kami menyampaikan pesan yang sangat kuat tentang penolakan terhadap segala bentuk pelecehan," tegas Nicke.
Dan yang terakhir, ucap Nicke, harus meningkatkan peran lingkungan terutama untuk meningkatkan dan memperbaiki persepsi, dalam hal budaya dan situasi sosial.
"Jadi 5 isu ini yang harus ditangani untuk memungkinkan para perempuan, di Indonesia lebih banyak partisipasi di sektor energi," pungkas Nicke.***
Artikel Terkait
Gandeng ENI, Pertamina Jajaki Potensi Kelola Blok Internasional
Pertamina Trans Kontinental Tambah Armada untuk Tingkatkan Kapasitas Bisnis Hulu Migas
Hadiri Forum Hannover Messe 2024, Dirut Pertamina Paparkan Bisnis Terintegrasi yang Berkelanjutan
Pembangunan Berkelanjutan, Pertamina Gandeng 66 Ribu Pelaku UMKM Perempuan dan Produk Ramah Lingkungan
Sean Gelael Menang di FIA WEC 2024, Komitmen Pertamina Dukung Atlet Mendunia