Pertamina EP Sukofield Dukung Implementasi Program SRI Satu satunya di Tuban, Solusi Masalah Gagal Panen

Photo Author
Novia, Kabar BUMN
- Rabu, 16 Oktober 2024 | 15:00 WIB
Pertamina EP Sukowati Field mendukung implementasi program System of Rice Intensification (SRI), yang hanya ada satu satunya di Kabupaten Tuban. (DOK.Pertamina EP)
Pertamina EP Sukowati Field mendukung implementasi program System of Rice Intensification (SRI), yang hanya ada satu satunya di Kabupaten Tuban. (DOK.Pertamina EP)

Merupakan inovasi teknologi alat penyiang padi dengan modifikasi mata pisau pembersih rumput dan pemotong akar padi yang secara khusus didesain sesuai dengan ukuran jarak tanam pada pertanian organik SRI.

Baca Juga: Tinjau Progress LRT Jakarta Fase 1B, Pj Gubernur DKI Jakarta: Progress yang dicapai lebih cepat dari target awal

Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur Fitri Erika menambahkan bahwa dalam mewujudkan ketahanan energi melalui keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi, Regional Indonesia Timur juga berupaya untuk selalu memberikan manfaat jangka panjang kepada pemangku kepentingan, utamanya masyarakat lokal.

“Kami ingin masyarakat di wilayah operasi menjadi mandiri, dapat mengatasi permasalahan sosial yang dihadapi dengan memaksimalkan potensi lokal yang tersedia.

"Melalui program Prabu Kresna ini, seluruh fungsi di perusahaan turut terlibat untuk menularkan core competency, sehingga terjadi transfer knowledge yang akan berguna meningkatkan kesejahteraan petani mewujudkan ketahanan pangan,” imbuhnya.

Baca Juga: Dipercaya Kreditur, PT Perikanan Indonesia Komitmen Jalankan Proposal Perdamaian Pasca PKPU

Penerapan teknologi merupakan salah satu bentuk penerapan core competency perusahaan yang berkontribusi pada pengembangan program pemberdayaan masyarakat, khususnya melalui fungsi RAM pada divisi Mechanical Engineering, Mechanical, Fabrikasi.

Dimana hal itu membantu perancangan desain mesin, operasional transmisi engine, serta perakitan invensi alat penyiang khusus pertanian organik SRI Cakra Baskara.

Selain itu, pembuatan mata pisau juga memanfaatkan limbah besi non-B3 sehingga memiliki nilai guna mengubah masalah limbah menjadi alat solusi pertanian.

Baca Juga: Mitra BUMN Champion 2024, BNI dan Lima Mitranya Meraih Penghargaan dari Kementerian BUMN

Inovasi modifikasi teknologi ini merupakan inovasi modifikasi alat baru yang sebelumnya belum pernah ada.

Inovasi ini juga telah mendapatkan pengakuan paten dengan Nomor Paten: IDS000007700 per tanggal 15 Maret 2024.

Penerapan inovasi teknologi ini memberikan dampak yang signifikan terhadap efisiensi proses dan waktu penyiangan lahan pertanian organik.

Baca Juga: Kopi Cantel Braga: Tempat Nongkrong Baru di Tengah Kota Bandung

Efisiensi mencapai 70,96% yang artinya dapat menghemat kebutuhan tenaga kerja sampai 44 OH/Ha/musim dan menghemat biaya hingga Rp 4,4 juta/Ha/musim tanam, tergantung kondisi gulma rumput yang ada.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia

Tags

Artikel Terkait

Terkini