Sisi Nubi AOI menjadi proyek yang menampilkan berbagai inovasi, baik dalam pengelolaan subsurface, fasilitas permukaan, hingga operasi pengeboran dan well intervention.
Baca Juga: PLN Tuntaskan Pemulihan, Agam Jadi Titik Terakhir yang Menyala
Penentuan target subsurface dilakukan menggunakan metode seismic driven target berbasis machine learning yang sukses memberikan hasil optimal melalui dua sumur pertama proyek.
Pada fasilitas permukaan, digunakan teknologi Suction Pile Foundation (SPF) yang pertama kali diterapkan di Indonesia dan mampu mempercepat instalasi struktur bawah laut secara efisien dan ramah lingkungan.
Dalam aktivitas pengeboran, proyek menerapkan sistem New Concept–Sacrificial Casing yang membantu meningkatkan keandalan dan mempercepat durasi pekerjaan. Sumur SS-406 bahkan mencatatkan Rate of Penetration tercepat sekaligus aman di lingkungan PHM.
Baca Juga: Bertahan di Saat Darurat: Tips Survival Setelah Bencana Sebelum Bantuan Datang
Sumur SS-406 juga menjadi sumur pertama di Indonesia yang memanfaatkan pressure test dan fluid analysis langsung dari rangkaian bor.
Selain itu, proses completion sumur menunjukkan hasil signifikan, di antaranya pemasangan fungsi single-trip-multi-zones gravel pack sand control serta multi-zone packer isolation dengan tubular 9-5/8” dan 7”.
Teknologi tersebut dirancang untuk mengontrol pasir, mengisolasi beberapa zona reservoir, serta mempersiapkan opsi future application of thru tubing screen demi menghasilkan produksi optimal.
Baca Juga: Libur Akhir Tahun Lebih Hemat Bersama DAMRI, Nikmati Harga Spesial di Awal Desember 2025
Setyo menambahkan bahwa keberhasilan onstream dua sumur di platform WPS4 menjadi awal dari rangkaian produksi berikutnya, karena proyek Sisi Nubi AOI kini masuk ke tahap pengeboran development dengan dua Jack-Up Rig di dua platform berbeda.
“Saya optimis keberhasilan Proyek Sisi Nubi AOI dapat menjadi referensi bagi proyek-proyek hulu migas lainnya. Saya percaya bahwa kolaborasi yang kuat, integritas, dan semangat yang tinggi dapat memberikan hasil yang terbaik,” tuturnya.
Dalam kunjungannya dua hari sebelumnya, Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menjelaskan bahwa PHE akan terus berinvestasi pada operasi hulu migas berbasis prinsip ESG. Ia menyoroti tantangan lapangan mature.
“Sebagian besar produksi minyak nasional berasal dari lapangan-lapangan mature yang kami kelola di berbagai wilayah Indonesia, seperti di WK Mahakam. Tantangan utamanya adalah bagaimana mempertahankan tingkat produksi di tengah kondisi reservoir yang menurun secara alami,” ungkapnya.
Artikel Terkait
Pertamina Hulu Indonesia Dorong UMKM Naik Kelas Lewat UMK Academy 2025
Pertamina Peringati Hari Disabilitas Internasional 2025, Tekankan Etika Kerja dan Inklusi Tanpa Batas
Pertamina Mandalika International Circuit Raih Sertifikasi Keamanan Level 1 dari BNPT
Pacu Pemulihan Energi, Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan LPG di Aceh, Sumut, dan Sumbar Aman
Menteri ESDM dan Dirut Pertamina Tinjau Pemulihan Pascabencana di Sumatera Barat, Salurkan Bantuan dan Semangati Warga Terdampak