Dari Krisis ke Presisi: Strategi PHR Menjaga Energi dan Produksi di Blok Rokan

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Rabu, 4 Februari 2026 | 12:00 WIB
Strategi PT Pertamina Hulu Rokan menjaga produksi Blok Rokan saat defisit energi melalui sistem load shedding, IMT, dan kolaborasi insinyur. (Dok. Pertamina)
Strategi PT Pertamina Hulu Rokan menjaga produksi Blok Rokan saat defisit energi melalui sistem load shedding, IMT, dan kolaborasi insinyur. (Dok. Pertamina)

"Secara sistem, prioritas pemadaman otomatis ini bekerja hingga level feeder (jaringan). Sistem langsung memilah mana jaringan dengan produktivitas terendah yang harus dilepas duluan demi menyelamatkan jaringan vital. Ini pertimbangan safety dan ekonomi yang berjalan dalam hitungan detik," tambah Winarto.

Baca Juga: Cepat Pesan! Tiket Kereta Api Reguler Lebaran 2026 Telah Terjual 382.047 Tiket

Meski demikian, algoritma memiliki batas. Saat krisis berlangsung lebih lama dan kondisi lapangan berubah cepat, peran manusia menjadi faktor penentu dalam menjaga keberlanjutan operasi.

Aktivasi IMT dan Kendali Strategi PRIME

Begitu indikator pasokan gas menunjukkan penurunan signifikan di awal Januari, manajemen PHR segera mengaktifkan IMT (Incident Management Team).

Struktur komando darurat ini memastikan seluruh operasi berada di bawah satu kendali terpusat agar keputusan dapat diambil cepat dan akurat.

Baca Juga: Ide Kado Istimewa untuk Kekasih di Hari Valentine 14 Februari yang Penuh Makna

Dalam kerangka IMT, strategi pemulihan dijalankan secara terkoordinasi. Jika sistem otomatis diibaratkan sebagai autopilot, maka Fungsi PRIME (Production Reliability & Innovation Management) berperan layaknya Air Traffic Control yang mengatur ritme operasi agar produksi tetap berjalan optimal.

Di bawah kepemimpinan Senior Manager Desy Kurniawan, PRIME menjadi pusat kendali utama seluruh operasi Zona Rokan selama masa krisis.

Desy menegaskan bahwa keberhasilan ini lahir dari kolaborasi lintas fungsi di bawah IMT, mulai dari PRIME, Productions & Operations (PO), Power Generation & Transmission (PGT), hingga Hydrocarbon Transportation (HCT).

Baca Juga: PHE ONWJ Raih 7 Penghargaan Indonesia Green Awards 2026, Perkuat Arah Inovasi Berkelanjutan dan Kontribusi Sosial

Setiap hari, tim menghitung Loss of Production (LPO), memantau kondisi fasilitas, serta menyusun strategi pemanfaatan gas terbatas agar tetap menghasilkan produksi minyak semaksimal mungkin.

Menghindari Risiko Congeal dan Overflow

Perlindungan ekstra pada Gathering Station dan sumur prioritas bukan tanpa alasan. Hal ini berkaitan langsung dengan titik kritis yang menjadi momok bagi para insinyur perminyakan.

Baca Juga: Rutin Naik Kereta? Jangan Lewatkan Cashback Tiket KAI lewat BRImo

Minyak di Blok Rokan memiliki sifat mudah membeku atau congeal ketika suhu menurun. Jika aliran berhenti total, minyak di dalam pipa dapat mengeras seperti lilin.

Selain itu, matinya daya di Gathering Station berpotensi memicu overflow atau luapan fluida produksi yang berisiko besar bagi keselamatan dan lingkungan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini