Kabar BUMN – Ketangguhan industri migas justru terlihat jelas ketika situasi tidak ideal terjadi.
Awal Januari lalu, pasokan gas dari pihak ketiga (TGI) terhenti, membuat sumber energi utama untuk pembangkit listrik fasilitas produksi ikut menurun drastis dan menempatkan operasi pada kondisi genting.
Dalam kondisi normal, Blok Rokan membutuhkan beban listrik sekitar 435 Megawatt (MW) agar seluruh sistem produksi berjalan optimal. Namun gangguan suplai gas eksternal membuat daya pembangkit menyusut tajam, sehingga sistem terpaksa beroperasi pada level survival di kisaran 100 MW.
Baca Juga: Bank Mandiri Perkuat Komitmen Pembangunan Nasional Lewat 1.174 Program TJSL di 2025
Artinya, terdapat kekurangan daya hingga 335 MW. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan listrik sebuah kota kecil, dan bila terjadi di wilayah kerja migas tersibuk di Indonesia, konsekuensinya bisa sangat serius, mulai dari berhentinya produksi, kerusakan peralatan, hingga kegagalan memenuhi target nasional.
Situasi di Rumbai justru menunjukkan hal sebaliknya. Alih-alih kepanikan, yang terjadi adalah penerapan sistem mitigasi yang telah dirancang matang selama bertahun-tahun.
Di balik penurunan daya yang terlihat dari luar, terdapat kerja senyap berupa koordinasi antara teknologi otomatisasi dan analisis tajam para insinyur.
Baca Juga: 4 Kuliner Berbahan Baku Nasi yang Populer dan Ikonik di Magelang
Pertahanan Berlapis Lewat Protokol 10 Level
"Sistem kelistrikan PHR dibangun dengan lapisan pertahanan yang kokoh," ungkap Winarto, Senior Manager Power Generation & Transmission (PGT), saat menjelaskan fondasi sistem energi di Blok Rokan.
PHR mengoperasikan Sistem Manajemen Beban yang dievaluasi secara menyeluruh minimal setiap tiga tahun.
Di dalamnya terdapat mekanisme otomatis bernama 10 Level Pemadaman atau Load Shedding yang dirancang untuk menghadapi kondisi darurat.
Baca Juga: Dukungan PHE OSES Tingkatkan Fasilitas Pendidikan di Sekolah Terpencil Belitung
Begitu sistem mendeteksi power shortage akibat penurunan suplai gas, pemutusan beban dilakukan otomatis berdasarkan prioritas.
Proses dimulai dari Level 1 untuk beban non-esensial dan terus meningkat hingga Level 10, yaitu beban paling kritis seperti Gathering Station (GS) serta sumur dengan produksi tertinggi.
Artikel Terkait
Pertamina Hulu Rokan Tekan Pengangguran Lewat Program Vokasi
Menjaga Jejak Lutung Kokah: Komitmen Pertamina Hulu Rokan untuk Konservasi Primata Sumatra
Pertamina Hulu Rokan Dukung Konservasi Gajah Sumatera di Riau, Wujud Nyata Komitmen Jaga Keanekaragaman Hayati
Pertamina Hulu Rokan Kembangkan Teknologi CEOR di Lapangan Minas untuk Dongkrak Produksi Minyak Nasional
Lapangan Minas Masuki Fase Baru, Pertamina Hulu Rokan Andalkan Teknologi Chemical EOR