Kabar BUMN – Mariono (43), atau yang akrab disapa Nono, menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa meski dengan keterbatasan fisik.
Kakinya tidak sempurna, namun ia tetap mampu bergerak lincah, sementara tangannya masih cekatan mengotak-atik mesin sepeda motor.
Tongkat ketiak selalu menemani setiap langkahnya, menjadi simbol kegigihan Nono menghadapi tantangan hidup.
Baca Juga: Garuda Indonesia Catatkan Pertumbuhan Angkutan Kargo Jelang Peak Season Lebaran 2026
Selama enam tahun terakhir, Nono sepenuhnya mendedikasikan dirinya sebagai mekanik.
Ia sudah terbiasa bergulat dengan oli, kunci mekanik, hingga memahami “penyakit” sepeda motor yang ditanganinya. Keterampilan ini membuatnya dikenal sebagai mekanik andal di desanya.
Nono tinggal di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, dan menjadi anggota kelompok bengkel difabel binaan Pertamina EP Rantau Field.
Baca Juga: Takut Terbang Malam Saat Mudik Lebaran? Ini Tips Biar Tetap Tenang dan Nyaman di Pesawat
Meski seorang tunadaksa, Nono selalu tampak tenang dan mantap menghadapi hidup. Dari pengalamannya, ia percaya bahwa untuk mencapai ketenangan batin, seseorang harus teguh dan yakin, serta mengosongkan diri dalam hidup batinnya.
"Bengkel ini pemberi kehidupan bagi saya dan keluarga. Semenjak dapat pelatihan dan diberdayakan jadi mekanik, ekonomi saya jadi lebih baik," ujarnya kepada media, Senin (16/3/2026).
Sebelum mengikuti pelatihan mekanik, Nono tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidupnya sangat bergantung pada keluarga. Kehadiran bengkel memberi harapan baru untuk kehidupan yang lebih mandiri.
Baca Juga: Perkuat Peran Perempuan di Sektor Energi, PLN Dorong Lingkungan Kerja yang Lebih Inklusif
"Setelah ikut pelatihan mekanik dari Pertamina, bengkel ini buka. Dari sinilah saya merasa punya penghidupan. Beberapa tahun jadi mekanik di sini kemudian saya menikah. Berani menikah karena sudah ada penghasilan dari bengkel ini," tambahnya.
Ujian terberat Nono datang saat banjir bandang melanda Aceh Tamiang pada 26 November 2025. Ia harus mengungsi dan bertahan hidup dari belas kasihan orang selama beberapa hari, kembali ke kondisi hidup yang serba terbatas.
"Banjir bandang kemarin menjadi cobaan paling berat. Semua barang yang saya miliki sudah hancur. Penghasilan saya pun tidak ada karena bengkel porak-peranda. Semua capaian habis hanya hitungan hari," katanya.
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Artikel Terkait
Pengeboran Sumur RNT DZ-23 Sokong Pertamina EP Rantau Field Tingkatkan Produksi
Merajut Kebersamaan, Pertamina EP Rantau Satukan Ribuan Orang dalam Acara Istighosah dan Dzikir Bersama
Pemberdayaan Difabel ala Pertamina EP Rantau Tuai Penghargaan Internasional
Pertamina EP Rantau Dirikan Posko Kesehatan Gratis untuk Warga Terdampak Banjir Aceh Tamiang
Air Bersih dan Sembako Mengalir ke Aceh Tamiang, Pertamina EP Rantau Hadirkan Harapan