Kabar BUMN – Pertamina EP Sukowati Field, bagian dari Zona 11, Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina meningkatkan kapasitas petani di Desa Rahayu, Kabupaten Tuban.
Pertamina EP Sukowati Filend membantu petani di Tuban dengan penerapan Sistem Pertanian Organik metode System of Rice Intensification (SRI), satu satunya di kabupaten tersebut.
Penerapan SRI ini dilakukan guna mengatasi kegagalan panen berulang dan penurunan produktivitas pertanian secara berangsur-angsur yang mengancam ketahanan pangan masyarakat.
Baca Juga: Kedung Minten River Camp Tulungagung: Pengalaman Camping Menyenangkan di Tengah Alam
Inovasi tersebut bahkan berhasil mendongkrak pendapatan petani gurem menjadi Rp10,2 juta per musim dan penghematan produksi pertanian Rp2,8 juta/Ha/musim.
Manager Field Sukowati Arif Rahman Hakim mengatakan bahwa program Prabu Kresna berhasil menjawab masalah-masalah isu nasional saat ini seperti permasalahan krisis pupuk serta permasalahan ancaman ketahanan pangan.
Melalui pengelolaan pertanian organik dengan metode SRI, program ini berdampak secara ekonomi pada penghematan biaya produksi dan peningkatan hasil panen dan pendapatan petani.
Baca Juga: Solusi Hijau PHE WMO: Pertanian Holtikultura untuk Rehabilitasi Lahan Kritis di Bangkalan
Selain itu, program tersebut juga berdampak pada aspek sosial dan juga perbaikan kelestarian lingkungan, khususnya pada aspek perbaikan tanah lahan pertanian serta perbaikan rantai ekosistem sawah.
“Terlebih pada tahun ini, Program Prabu Kresna juga mulai mengembangkan aspek teknologi dengan adanya alat penyiang padi Cakra Baskara yang sangat membantu petani dalam menggarap pertanian organik SRI dengan efisiensi sebesar 70,96% dan menjawab permasalahan isu ketenagakerjaan tani yang sulit.
"Serta secara bertahap Program Prabu Kresna juga mengembangkan jangkauan menyasar pertanian organik hortikultura yang sekaligus membawa misi menumbuhkan generasi muda di sektor pertanian,” ujar Arif.
Penerapan pertanian organik yang menghilangkan intervensi herbisida kimia pada proses pertanian, menyebabkan gulma pada lahan pertanian cenderung lebih banyak dan membuat kebutuhan tenaga serta waktu penyiangan padi semakin tinggi mencapai 62 OH (Orang Hari)/Ha/musim.
Sebagai solusi atas masalah tersebut, PEP Sukowati bersama masyarakat mengembangkan inovasi Cakra Baskara (Cara Kreatif Basmi Akar dan Rumput Tak Berguna).