Bedanya, ikan etong dan ayam-ayam lebih berdaging dengan sedikit duri. Sementara, daging tengkek sedikit dengan duri lebih banyak.
Baca Juga: Sinergi Konservasi: PHE ONWJ Dukung Pelestarian Penyu Sisik di Pulau Rambut
Tengkek, si ikan kurus berduri yang tak diminati pasar, kini menjelma menjadi produk olahan lezat dan bergizi, berkat kegigihan dan kreativitas Eka dan perempuan tangguh KUW Greenthink.
Melalui tangan-tangan kreatif mereka, tengkek disulap menjadi berbagai produk olahan, seperti abon, dendeng, dan kerupuk.
Sebelum Mustika Food dan produk olahan ikan tengkeknya dikenal banyak orang, ikan tengkek hanya dijual di bawah Rp5.000 per kilo.
Baca Juga: PHE ONWJ Lakukan First Cut Fabrikasi Anjungan OOA, Tanda Dimulainya Proyek Lapangan OO-OX
Bahkan sempat menyentuh Rp2.000-Rp3.000 per kilogram. Tiap satu kilogram berisi 4 - 5 ekor ikan.
Harga ikan tengkek naik seiring kebutuhan Eka tehadap bahan baku produknya.
Dalam satu bulan, Eka memerlukan bahan baku ikan tengkek rata-rata 1,5 - 2 kuintal.
Baca Juga: PHE ONWJ dan Dinas Kehutanan Jawa Barat Jaga Alam Pesisir dengan Teknologi Tepat Guna
Jumlah itu untuk memenuhi permintaan konsumen lintas kota sampai lintas negara, mulai dari Subang, Bandung, Jabodetabek, Bali, Jambi, hingga Singapura.
Hasilnya, harga ikan tengkek melonjak naik menyentuh hingga Rp17.000 - Rp25.000 per kilogram.
Bisnis Eka semakin membersar berkat diversifikasi produk.
Baca Juga: Berdayakan Masyarakat, PHE ONWJ Ajak Warga Desa Sukajaya Ubah Limbah Cangkang Rajungan Jadi Berkah
Di bawah bimbingan PHE ONWJ, produk Eka merambah dari abon ke kerupuk, cheese stick, dan ikan asin. Omzet UMKM Mustika Food berkisar Rp100 jutaan per bulan.