Desa Sukakarya menjelma menjadi contoh sukses bagaimana kearifan lokal dipadukan dengan sains untuk menjawab persoalan lingkungan dan pangan.
Baca Juga: Program Magang PHR Kembali Hadir, Dibuka Peluang Karier Bagi Lulusan Baru D3 hingga S1
Tahap awal program GEMILANG mengembangkan pinang menjadi produk bernilai tambah seperti bandrek pinang, kopi pinang, dan permen.
Namun tantangan besar tetap menghantui: air pematang berubah menguning, padi kerdil, dan produktivitas merosot hingga 80 persen akibat Fe yang berlebihan.
Pada 2018, lebih dari 20 hektare sawah tercatat gagal panen.
Baca Juga: 25 Ucapan Hari Guru Nasional yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna
Terobosan akhirnya ditemukan dari tanaman yang selama ini diremehkan.
Pinang terbukti mampu menekan kadar Fe dalam tanah.
Temuan tersebut membuat lahan kembali subur, tanaman pulih, dan panen kembali meningkat.
Keberhasilan ini kemudian mengundang perhatian akademisi.
Bersama Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), Pertamina EP Pendopo Field melakukan riset lanjutan yang menunjukkan kandungan tanin dan polifenol pada pinang mampu menekan reaksi oksidasi logam.
Dari hasil riset itulah tercipta inovasi serbuk pinang fermentasi.
Baca Juga: PT TIMAH Tbk Bantu Ringankan Biaya Medis Balita di Bangka Tengah
Prosesnya sederhana: buah pinang kering ditumbuk, difermentasi dengan etanol 70 persen, lalu larutannya disemprotkan ke lahan.