Sisa kulit pinang kemudian diolah menjadi kompos organik.
Hingga kini, lebih dari 270 petani telah mengadopsi teknik tersebut sehingga risiko gagal panen dapat ditekan secara signifikan.
Baca Juga: PLN Perkenalkan Program Gelegar SwaCAM untuk Dorong Pencatatan Meter Mandiri
Manfaat pinang tidak berhenti pada perbaikan tanah.
Anggota KWT Melati memanfaatkan daun pinang untuk menghasilkan kain eco-print bernilai seni.
Dengan pendampingan Kanantra Danantra, brand fesyen berkelanjutan, kelompok ini kini mampu memproduksi rata-rata tujuh lembar kain per bulan dengan harga jual sekitar Rp400 ribu per lembar.
Baca Juga: Candi Kalasan: Jejak Buddha Tertua di Jogja yang Menyimpan Keajaiban Arsitektur
Aktivitas ini membuka ruang kerja bagi 30 perempuan, termasuk tujuh penyandang disabilitas.
“Bagi mereka, ini bukan sekadar penghasilan, tetapi soal harga diri dan kebanggaan,” ujar Suhartini.
Untuk memastikan keberlanjutan bahan baku, masyarakat menanam kembali 16 ribu pohon pinang Betara di area perbukitan dan pekarangan rumah warga.
Baca Juga: Magang Mandiri University Group: Peluang Belajar Teknologi Untukmu yang Ingin Berkembang
Akar pinang yang kuat membantu menjaga kestabilan tanah, mencegah longsor, serta melindungi desa dari banjir.
Kini, seluruh bagian pohon pinang memiliki manfaat: buah untuk penetral tanah, kulit untuk kompos, dan daun untuk produksi eco-print.
Dampak yang semakin luas, penguatan ekonomi perempuan, kolaborasi riset dengan perguruan tinggi, hingga konservasi lingkungan, mendorong program GEMILANG berkembang menjadi GEMILANG PLUS.
Baca Juga: PHR Dorong Kemandirian Ekonomi Warga Minas Lewat Budidaya Ikan Akuaponik