Apabila menggunakan kapal berbasis diesel akan memakan bahan bakar sebanyak 1.500 liter per hari, dan menggunakan DDF, bahan bakar diesel hanya sekitar 40% dan 60% sisanya dari gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG).
"Efisiensi yang kami dapatkan dari crewboat tersebut adalah kalau kita estimasi konsumsi bahan bakar selama satu hari sebanyak 1.500 liter, kemudian setelah dimodifikasi menjadi kapal DDF, kita akan mengganti 60% konsumsi bahan bakar dengan 30 MMBTU LNG, maka efisiensi yang bisa kita peroleh adalah sekitar Rp 12 juta per hari," papar Setyo.
Baca Juga: Pertamina Hulu Mahakam Tambah Produksi Gas
Sebagai informasi, DDF Crewboat adalah kapal dengan mesin diesel yang dimodifikasi sehingga mesin tersebut bisa berjalan dengan campuran bahan bakar diesel dan LNG.
Teknologi ini tidak sepenuhnya menghilangkan penggunaan bahan bakar diesel, tapi akan mengurangi pemanfaatan diesel.
Tabung LNG akan diletakkan pada kompartemen tangki bahan bakar.
Baca Juga: Berbagi Kebahagiaan di Momen Alih Kelola, Pertamina Hulu Rokan (PHR) Santuni 230 Anak Yatim
Dari hasil studi PHM, potensi optimasi dari pemanfaatan DDF tersebut akan mengurangi penggunaan bahan bakar diesel sekitar 6.050 Kiloliter per tahun untuk 10 crewboat yang beroperasi di offshore WK Mahakam, dan berpotensi mengurangi biaya operasional sebesar USD 4,1 juta per tahun.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso menambahkan, pihaknya sebagai perusahaan induk (holding company) Pertamina Group mengapresiasi upaya PHM dalam inovasi kapal DDF ini, karena akan berkontribusi pada pengurangan emisi, mendorong tercapainya NZE, serta di sisi operasional akan meningkatkan efisiensi bahan bakar.
Pemanfaatan gas (Liquefied Natural Gas) sebagai alternatif bahan bakar pun akan meningkatkan pemanfaatan energi transisi.
Baca Juga: Harga Pertamax Mendadak Naik per 10 Agustus 2024, Ini Kata Pertamina
"Uji coba pengoperasian kapal DDF yang mengkombinasi penggunaan bahan bakar Diesel dan LNG merupakan langkah maju dan sejalan dengan target Pertamina sebagai pemimpin energi transisi, karena energi LNG lebih efisien dan ramah lingkungan," tandas Fadjar.
PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) merupakan afiliasi dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE), selaku Subholding Upstream Pertamina.
PHE akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Baca Juga: Pertamina Drilling Capai Produksi 1.000 BOPD, Perkuat Dukungan Target Produksi Minyak Nasional
Artikel Terkait
Desa Energi Berdikari Wasteco, Pertamina Hulu Mahakam Konsisten Sulap Sampah Jadi Bahan Bakar
Pertamina Hulu Indonesia dan Pertamina Hulu Mahakam Sukses Pertahankan Sertifikasi Anti Penyuapan
Tidak Main-main, Dua Program CSR Pertamina Hulu Mahakam Peroleh Penghargaan Internasional
Program CSR Pertamina Hulu Mahakam Hasilkan Panen Raya Padi Organik di Kutai Kartanegara
Pertamina Hulu Mahakam Resmikan 3 Proyek Strategis di WK Mahakam untuk Dongkrak Produksi Migas Nasional