Mid Career Crisis, Apakah Anda Mengalaminya? Coba Cermati Tanda-tandanya di Sini

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Senin, 7 Agustus 2023 | 12:00 WIB
Ilustrasi. Seperti halnya mid-life crisis, kaum pekerja sering mengalami apa yang disebut mid-career crisis. (Pexels)
Ilustrasi. Seperti halnya mid-life crisis, kaum pekerja sering mengalami apa yang disebut mid-career crisis. (Pexels)

Penyebab lain bisa juga faktor eksternal, misalnya perubahan kebijakan di kantor yang tidak sesuai dengan karakter atau filosofi hidup Anda.

Baca Juga: 10 Ciri-ciri Atasan atau Bos Toxic yang Perlu Diwaspadai

Semakin tinggi jabatan, semakin Anda sadar visi dan misi perusahaan tidak sebaik yang dibayangkan.

Mungkin juga budaya kerja mengalami perubahan akibat perubahan atasan atau CEO. Ini juga bisa membuat seseorang kembali mempertanyakan dirinya sendiri.

Lanjut atau cari karier baru
Ada dua cara untuk menyelesaikan masalah mid career crisis ini. Berdamai dengan kondisi kantor atau keluar dan mencari karier baru.

Baca Juga: Mungkinkah Berganti Karier di Umur 40 tahun?

Bila memutuskan tetap dengan jabatan yang sudah ada, Anda perlu menyadari ada faktor-faktor luar yang tidak bisa diubah. Anda yang harus berubah dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Munculkan kesadaran, pekerjaan adalah kewajiban yagn harus dijalani. Kerjakan sebaik mungkin dan carilah kesenangan atau kebahagiaan di luar. Misalnya dengan menjalankan hobi atau melakukan side job.

Alternatif kedua, Anda keluar dari pekerjaan tersebut dan mencari karier baru. Kadang pergantian karier bisa menimbulkan semangat dan motivasi bekerja.

Baca Juga: Catat! 4 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mulai Bisnis Sampingan

Bila masih mencintai jenis pekerjaan tersebut, bisa berpindah kantor. Atau, bisa juga mencari karier yang benar-benar berbeda dengan jabatan yang ada saat ini.

Tentu ada konsekuensinya, seperti gaji bisa saja tidak sebanyak yang sekarang atau kemungkinan harus menganggur beberapa saat dulu.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Sumber: harvard business review, glints.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini