Gula Meningkatkan Risiko Stres Sampai Depresi, Kok Bisa?

Photo Author
Lucy SL, Kabar BUMN
- Jumat, 8 September 2023 | 17:00 WIB
Ilustrasi. Begitu banyaknya dampak buruk mengonsumsi gula berlebihan, cobalah untuk menguranginya.  (Nataliya Vaitkevich/Pexels)
Ilustrasi. Begitu banyaknya dampak buruk mengonsumsi gula berlebihan, cobalah untuk menguranginya. (Nataliya Vaitkevich/Pexels)

Bila efeknya sudah habis, orang yang terbiasa dengan gula akan kembali lemas dan tidak punya punya tenaga.

Baca Juga: Gampang Lesu? Coba Lakukan 5 Jenis Olahraga Ini untuk Tingkatkan Stamina

Sehingga mereka perlu untuk mengonsumsi lagi makanan dan minuman manis.

Ini seperti lingkaran setan. Orang jadi tergantung pada gula untuk meningkatkan mood dan energinya.

Bila tidak, maka akan muncul rasa cemas dan pada tingkat yang parah menjadi depresi.

Baca Juga: 7 Jenis Makanan Untuk Mengurangi Kadar Gula Darah

2. Tubuh sulit merespons stres
Kalau lagi stres orang biasanya lari ke makanan manis. Setelah itu seringnya perasaan akan menjadi baik.

Ini terjadi karena gula sukses menekan hypothalamic pituitary adrenal (HPA) dalam otak.

HPA berfungsi untuk merespons stres. Ketika ditekan, maka stres yang dialami orang akan berkurang.

Baca Juga: Overthinking Bisa Jadi Pemicu Stres, Simak 4 Tips Cara Menghindarinya

Masalahnya, bila kondisi ini sering terjadi dan terus berulang pada akhirnya tubuh jadi sulit merespons stres.

Baru stres sedikit saja orang akan segera lari pada makanan manis.

Dan mungkin saja kadar asupan gula yang diperlukan semakin tinggi dan tinggi lagi.

Baca Juga: Hentikan Kebiasaan Overeating Saat Stres, Tidak Baik Bagi Kesehatan

3. Gula menimbulkan kecanduan
Kenapa orang yang suka makanan manis kadang tidak bisa berhenti? Ini karena gula bersifat candu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Lucy SL

Sumber: Healthline

Tags

Artikel Terkait

Terkini