Semua tergantung ketersediaan bahan baku. Untuk setiap racikan teh hanya dibuat 4-10 porsi per hari.
Teh panas favoritnya Wajah Pasar Gede. Ini terdiri dari teh hitam, jahe, lemon, pandan, dan bunga lawang.
Lalu, Hujan di Mimpi, yang terdiri dari teh hijau, daun mint, nanas, chamomile, dan lavender.
Sementara untuk teh dingin yang jadi favorit Nawari, Temaran, Utara dan Utari.
Untuk teh dingin yang jadi favorit Nawari, Temaran, Utara, dan Utari.
Nawari terdiri atas tujuh teh. Dalam kepercayaan Jawa angka tujuh diartikan pitulungan atau pertolongan.
Dengan racikan ini diharapkan memberikan berkah atau pertolongan bagi yang meminumnya.
Baca Juga: Jejak-jejak Kemewahan Bangunan Eropa di Loji Wetan, Bekas Kawasan Kelompok Elit Belanda di Solo
Desain vintage
Selain menikmati racikan teh, pengunjung datang ke Titilaras karena suasananya juga.
Tempatnya tidak terlalu besar tetapi nyaman dan sangat vintage.
Ada banyak hiasan postcard bergambar aktivitas Pasar Gede dan tulisan filosofis menghiasi dinding.
Pengunjung bisa melihat langsung Arkha meracik tehnya.
Baca Juga: 4 Rekomendasi Tempat Makan Tengkleng di Solo, Murah, Berempah, dan Enak
Di sini sang pemilik yang bekerja langsung dan sendirian. Tidak ada pelayan lain.
Kedai Kopi dan Teh Titilaras buka setiap hari kecuali Senin. Jam buka dan tutupnya tidak menentu.
Artikel Terkait
Hidden Gem di Kampoeng Heritage Kayoetangan Malang, Rumah Jengki 976 Rekomendasi Kedai Kopi Sambil Nostalgia!
Nggone Mbahmu Coffee Roaster, Kedai Kopi di Klaten yang Tawarkan Suasana Asri dan Nyaman bak di Rumah
Bukan di Tengah Hutan, Kedai Kopi Svarga Flora Coffee & Plants yang Asri nan Sejuk ini Ada di Yogyakarta
Pertama di Indonesia, Kedai Kopi % Arabica Buka Tempat Ngopi dengan Gerai Drive Thru terbesar di Asia
4 Kedai Kopi di Bandung yang Umurnya Sudah Puluhan Tahun dan Melegenda di Antara Lainnya
4 Kedai Kopi Legendaris di Indonesia, Tetap Kokoh di Tengah Gempuran Modernisasi dan Mesin Kopi Canggih