3. Tidak pernah kebanjiran
Ketika akan dibangun, dipilih permukaan tanah yang seperti gundukan tinggi dibandingkan sekitarnya.
Istilah orang Jawa adalah bathok buluk atau cangkang kura-kura.
Karena lokasinya di cangkang kura-kura, Keraton Yogyakarta tidak pernah kebanjiran.
Baca Juga: Satu Tiket, Dua Perayaan: Mbiro Karnaval di Gembira Loka Zoo Yogyakarta Siap Menyambutmu!
Di zaman dulu Keraton Yogyakarta juga mudah terlihat dari kejauhan oleh masyarakat sekitar.
Itu tidak lepas karena posisinya yang lebih tinggi dibandingkan bangunan lain.
Siti Hinggil, nama salah satu bangsal di keraton, posisinya termasuk paling tinggi di antara bangunan lain.
Area ini sering jadi tempat Sultan melihat dengan jelas pemandangan Gunung Merapi.
4. Terdiri atas lima bagian areal
Kompleks Keraton Yogyakarta memiliki luas sekitar 184 hektare.
Kompleks ini meliputi Benteng Baluwarti, Alun-Alun Lor, Alun-Alun Kidul, Gapura Gladak, dan Masjid Gedhe.
Kompleks keraton dikelilingi tembok lebar, beteng namanya. Panjangnya 1 kilometer tinggi 3,5 meter.
Di dekat beteng, terdapat jalan kecil tempat menyimpan senjata dan amunisi.
Baca Juga: Melihat Keindahan Yogyakarta Saat Malam Hari Melalui Tempat-tempat Wisata yang Penuh Cahaya
5. Ada sejumlah larangan bagi pelancong yang datang
Sebagai tempat tinggal Sultan, ada sejumlah larangan bagi orang dan turis yang datang ke keraton.
Yaitu, mereka tidak boleh mengenakan topi karena dianggap tidak menghormati penghuni keraton.
Orang tidak boleh berfoto dengan pose membelakangi Abdi Dalem di keraton.
Artikel Terkait
Bale Raos, Restaurant Bergaya Istana Keraton di Jogja yang Sajikan Hidangan Khusus Kegemaran Raja-raja Zaman Dahulu
Keraton Yogyakarta dan PLN EPI Terapkan Green Deflation, Libatkan 5 000 Petani Untuk Ekonomi Hijau
Jelajah Keraton di Pulau Jawa, Tempat Tinggal Keluarga Kerajaan yang Usianya Sudah Ratusan Tahun
5 Masjid Pathok Negoro di Yogyakarta, Penanda Kekuasaan di Wilayah Kerajaan Keraton Jogja