Minim risiko cedera
Cocok untuk semua usia dan tingkat kebugaran
Baca Juga: Diskon Tiket Kapal PELNI Hampir Habis, Perjalanan hingga Akhir Juli Diserbu Penumpang
Kekurangan lari:
-
Lebih berisiko menimbulkan cedera (lutut, pergelangan kaki)
-
Tidak cocok bagi orang dengan obesitas atau masalah jantung
Baca Juga: Liburan ke Luar Negeri Bersama Balita? Ini 7 Tips Ampuh Agar Si Kecil Tak Rewel
Ilmu di Balik Pembakaran Lemak
Tubuh membakar lemak dan karbohidrat saat berolahraga, tergantung pada intensitasnya.
Jalan kaki yang tergolong low-impact cenderung memicu pembakaran lemak lebih banyak karena menggunakan sistem energi aerobik secara dominan.
Baca Juga: Kimia Farma Luncurkan Fentakaf, Injeksi Anestesi Buatan Lokal untuk Kurangi Ketergantungan Impor
Sementara itu, lari menggunakan energi lebih cepat dari karbohidrat dan menstimulasi pembakaran kalori pasca olahraga (afterburn effect), yang tetap memberi efek positif untuk pelangsingan.
Penelitian dalam Journal of Obesity menunjukkan bahwa aktivitas ringan seperti jalan kaki dengan durasi cukup panjang (lebih dari 45 menit per sesi) tetap efektif dalam menurunkan lemak tubuh jika dilakukan secara rutin.
Jadi, Mana yang Lebih Baik?
Tidak ada jawaban mutlak. Pilihan terbaik tergantung pada:
-
Kondisi tubuh (apakah bisa melakukan aktivitas intens?)
Artikel Terkait
Mana yang Lebih Baik, Olahraga Jalan atau Lari?
Selain Berlindung Lalu Lari Keluar Bangunan, Ini Tindakan Keselamatan Saat Terjadi Gempa Bumi
Sleman Temple Run Kembali di Tahun 2025! Siap Lari Melintasi Candi?
Cara Datar Kolektif POCARI SWEAT Run Lombok 2025, Ajak Komunitasmu Lari ke Sirkuit Mandalika!
Istilah Lari Buat yang Mau Seru-Seruan di PLN Mobile Color Run 2025 Palembang