Baca Juga: Menaklukkan Gunung Merbabu, Kenali 5 Jalur Pendakian Terpopuler Beserta Tantangannya
Dari sinilah munculnya tradisi pertandingan Pacu Jalur.
Kampung sekitar pinggir Sungai Kuantan gelar perlombaan untuk merayakan hari besar seperti Maulid Nabi atau Idul Fitri.
Saat bertanding jalur atau sampan yang digunakan diukir pada bagian lambung, dayung, atau tiangnya.
Ukirannya biasanya bergambar hewan seperti buaya, ular atau harimau.
Baca Juga: Mendaki Gunung Boleh Seru, Asal Tetap Aman: Ini Tipsnya untuk Pendaki Pemula
3. Perayaan ulang tahun Ratu Wilhemina
Sekarang Pacu Jalur sering diselenggarakan pada perayaan hari Kemerdekaan RI atau 17 Agustus-an.
Di zaman penjajahan Belanda, Pacu Jalur ditampilkan untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhemina setiap 31 Agustus.
Setelah kemerdekaan, perayaan dialihkan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia.
Pertandingan pada Idul Fitri atau Maulid Nabi pun berpindah ke tanggal ini, sampai sekarang.
Baca Juga: Mendaki Gunung Boleh Seru, Asal Tetap Aman: Ini Tipsnya untuk Pendaki Pemula
4. Tim dalam pacu jalur
Satu tim Pacu Jalur terdiri atas tukang tari, tukang concang, tukang kayuh, dan tukang kemudi.
Biasanya tukang tari atau anak coki terdiri atas 3 anak kecil. Salah satunya berdiri di ujung kapal.
Mereka akan menari untuk memberi semangat pada tukang kayuh.
Gerakan mereka yang unik dan keberanian menari di ujung kapal tanpa jatuh yang membuat Pacu Jalur jadi viral.***
Artikel Terkait
Tidak Banyak yang Tahu tentang Kota dengan Julukan Bumi Sarimadu di Riau Ini Padahal Gudangnya Pemandangan Indah
Menikmati Eksotisme Pantai Payung di Kepulauan Riau
5 Pantai Indah yang Menjadi Tujuan Wisata Bahari di Kepulauan Riau, Sebanyak-banyaknya Pengunjung Belum Pernah Overtourism
Pilihan Wisata Terbaik di Kepulauan Riau, dari Destinasi Alam Memukau hingga Surganya Belanja
Sisi Lain Pulau Bengkalis, Riau, yang Tidak Hanya Kaya Minyak, Juga Dianugerahi Keindahan Alam Memesona
4 Kuliner Khas Melayu Riau dengan Rasa Gurih dan Pedas yang Menggiurkan