Penduduk di Desa Kusamba kebanyakan petani garam yang menerapkan tradisi pembuatan garam sejak abad ke 17.
Proses pembuatannya masih dilakukan dengan cara tradisional yang sulit dan menghabiskan waktu lama.
Pertama, air laut diambil dengan keranjang bambu lalu disiramkan ke pasir pantai yang sudah diratakan.
Baca Juga: 15 Inspirasi Ucapan Idul Adha 2026 yang Hangat untuk Sahabat dan Keluarga
Air akan menguap akibat panas matahari dan menghasilkan kristal garam pada pasir.
Proses penyiraman bisa berlangsung 4-5 kali untuk mendapatkan kristal garam yang banyak.
Kedua, pasir yang mengandung kristal garam ini dibawa ke pelungan (pondok kayu) untuk disaring.
Terakhir, garam dikeringkan di batang pohon.
Baca Juga: Tips Memenuhi Kuota Jalan Kaki 10.000 Langkah Per Hari Agar Tidak Terasa Melelahkan
Tanpa pemutih
Garam kusamba berbeda dengan garam lainnya karena tidak mengandung bahan kimia.
Terutama pemutih yang sering ditambahkan pada garam kemasan.
Hanya menggunakan sedikit saja garam dari Pantai Kusamba tersebut, rasa asinnya sudah muncul.
Garam ini juga mengandung 80 mineral alami yang tidak didapat pada garam biasa.
Baca Juga: Pahami Minuman Elektrolit, Minuman Penting untuk Para Pelari Jarak Jauh dan Intensitas Tinggi
Karena ini juga garam kusamba jadi favorit restoran dan hotel berbintang.
Artikel Terkait
Bali Puncaki Dunia! Inilah Daftar Destinasi Wisata Terbaik 2026 Versi Traveler Global
Rekomendasi Wisata Bali, Karang Boma Cliff Tawarkan Sunset Cantik dari Tebing
Solusi Atasi Macet Bali, Water Taxi Disiapkan Hubungkan Bandara dan Canggu
Liburan di Bali Kini Lebih Praktis, Ada Pass Wisata yang Bisa Dipakai ke Puluhan Destinasi
Jelajah Desa Julah, Desa di Bali Utara dengan Suasana dan Tradisi Bali Asli