Ada pula Festival Wisata Budaya Pasar Sorbon yang biasanya digelar di area kebun cokelat. Festival tersebut menghadirkan nuansa khas pedesaan dengan beragam kegiatan budaya dan kuliner lokal.
Pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan gamelan hingga kesenian wayang yang berkaitan dengan cerita sejarah desa.
Cerita rakyat yang dikenal sebagai Babad Peniwen menjadi bagian penting dari identitas masyarakat di sana. Kisah tersebut diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan nilai kehidupan masyarakat desa.
Baca Juga: ITDC Perkuat Infrastruktur Keselamatan dan Kelistrikan di Sirkuit Mandalika
Menyimpan Jejak Sejarah Religi
Desa Peniwen termasuk salah satu wilayah dengan mayoritas penduduk Kristen di Jawa Timur.
Sejarah desa ini berkembang sejak akhir abad ke-19 ketika kawasan tersebut mulai dibangun oleh sekelompok masyarakat yang dipimpin tokoh bernama Kiai Sakejus.
Baca Juga: Tips Memotret di Dalam Laut Bagi Pemula, Optimalkan Ponsel Jika Memang Belum Ada Modal Kamera
Perkembangan desa kemudian semakin dikenal setelah berdirinya Gereja Kristen Jawi Wetan atau GKJW Peniwen pada masa kolonial sekitar tahun 1930. Hingga kini, gereja tersebut masih menjadi salah satu ikon penting di Desa Peniwen sekaligus bagian dari perjalanan sejarah masyarakat setempat.
Dalam kisah Babad Peniwen, terdapat tokoh bernama Zangkioes Kasanawi yang disebut memiliki peran besar dalam perkembangan desa dan penyebaran ajaran Kristen di wilayah tersebut.
Kehadiran sejarah panjang itu membuat Desa Peniwen memiliki nilai religi yang cukup kuat bagi sebagian wisatawan.
Baca Juga: BKI dan Indonesia Kembali Pertahankan Predikat “High Performance” di Tokyo MoU 2025
Kehidupan Warga yang Penuh Toleransi
Salah satu hal yang membuat Desa Peniwen menarik adalah kehidupan masyarakatnya yang hidup berdampingan secara harmonis.
Meski mayoritas penduduk beragama Kristen, warga dengan latar belakang agama lain seperti Islam dan Hindu juga hidup rukun di desa ini.
Nuansa toleransi tersebut terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kebersamaan dan semangat saling menghormati menjadi bagian penting yang tetap dijaga hingga sekarang.
Baca Juga: BULOG Gandeng Akademisi dan Masyarakat Bahas Swasembada Pangan Berkelanjutan di Jawa Timur
Artikel Terkait
Tempat Makan Legendaris di Batu, Malang, Ada yang Sudah Berumur Lebih dari 50 Tahun
Liburan ke Malang Belum Lengkap Tanpa 5 Oleh-oleh Ini, Favorit Wisatawan!
Rekomendasi Kafe di Batu, Malang, dengan Pemandangan Alam yang Indah
Pantai Tanjung Penyu, Salah Satu Tempat Menikmati Sunset Terbaik di Malang
Malang Skyland 2026: Spot Foto Estetik, Wahana Seru, dan Harga Tiket Terbaru