ragam

Uniknya Alkuturasi Budaya yang Ditampilkan dalam Pelaksanaan Grebeg Sudiro di Perayaan Imlek di Solo

Jumat, 24 Januari 2025 | 15:30 WIB
Grebeg Sudiro, perayaan Imlek di kawasan Pasar Gede, Solo yang menjadi wujud akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di Surakarta. (Instagram@pesona.indonesia)

Acara dimulai dengan pawai keliling kota sambil menggotong gunungan.

Baca Juga: Dijuluki Kota Seribu Klenteng, Ini Destinasi Wisata yang Cocok untuk Imlek di Singkawang

Kue keranjang atau nian gao perlambang keberuntungan dan kemakmuran setiap tahunnya dibagikan di acara Grebeg Sudiro. (lottemart.co.id)

Gunungan ini bentuk sedekah bumi sebagai ucapan syukur pedagang Pasar Gede dan masyarakat sekitarnya.

Sementara untuk pawai budayanya disemarakkan dengan tari Jawa, pertunjukan liong dan barongsai.

Peserta pawai dari tahun ke tahun semakin bertambah banyak jumlahnya.

Tahun lalu ada sekitar 500 pelaku seni dan 50 jenis kesenian khas Tionghoa dan Jawa yang ditampilkan.

Baca Juga: Sejarah Berusia Ribuan Tahun Kue Keranjang Sehingga Selalu Hadir dan Disajikan di Setiap Perayaan Imlek

Membagikan 5.000 kue keranjang
Untuk tahun ini Grebeg Sudiro berlangsung dari tanggal 16 Januari yang dimulai dengan Karnaval Budaya.

Setelah itu ada wisata perahu pada tanggal 17-31 Januari.

Ada sekitar tiga perahu yang menyusuri Kali Pepe. Diramaikan pula dengan bazar UMKM.

Baca Juga: Di Masa Lalu Hanya Disajikan Saat Imlek, Kue-kue Ini Sudah Lama Menjadi Jajanan Pasar yang Bisa Ditemui Sehari-hari

Tentu saja yang paling ditunggu pawai gunungan yang berisi aneka makanan khas Imlek.

Direncanakan ada sekitar 5.000 kue keranjang yang akan dibagikan pada pengunjung.

Ada pula gunungan khas Kampung Sudiroprajan yaitu bakpia balong yang akan digotong selama pawai.***

Halaman:

Tags

Terkini