Perang Topat: Simbol Toleransi dari Lombok
Meskipun disebut perang, Perang Topat di Lombok bukanlah ajang permusuhan. Enam hari setelah Lebaran, warga dari Suku Sasak dan Bali berkumpul di Pura Lingsar untuk saling melempar ketupat.
“Tradisi ini justru melambangkan rasa syukur, serta kerukunan umat beragama di Lombok.” Prosesi ini dimulai dengan arak-arakan hasil bumi dan diakhiri dengan lemparan ketupat yang penuh suka cita.
Binarundak: Hangatnya Silaturahmi dengan Nasi Jaha
Lebaran di Motoboi Besar, Sulawesi Utara, identik dengan Binarundak atau tradisi memasak nasi jaha bersama-sama.
Masyarakat akan berkumpul tiga hari setelah Idul Fitri dan memasak nasi jaha yang dibungkus daun pisang dalam bambu, dibakar menggunakan sabut kelapa.
Baca Juga: Museum Kereta Api Ambarawa Hadirkan Eduwisata Seru dan Interaktif untuk Anak, Harga Tiketnya Beragam
Setelah matang, nasi disantap bersama sebagai wujud rasa syukur. Tradisi ini mempererat hubungan antarwarga dan menguatkan nilai kebersamaan.
Tumbilotohe: Gemerlap Lampu Penanda Akhir Ramadan
Di Gorontalo, Tumbilotohe atau “malam pasang lampu” menjadi tradisi yang dinanti. Lampu-lampu minyak tanah atau Tohetutu dipasang sejak maghrib hingga subuh pada tiga malam terakhir sebelum Idul Fitri.
Baca Juga: DAMRI Catat Penjualan 60 Ribu Tiket AKAP Jelang Puncak Arus Balik Lebaran 2025
“Pemasangan lampu dimulai sejak maghrib hingga menjelang subuh.” Lampu-lampu ini tak hanya menerangi, tapi juga disusun dalam bentuk masjid, kaligrafi, hingga Al-Quran.
Pada 2007, Tumbilotohe mencatatkan rekor nasional dengan lima juta lampu yang menghiasi Gorontalo.
***