Kabar BUMN - Dalam beberapa tahun terakhir, istilah diet IF atau intermittent fasting semakin sering terdengar, baik di kalangan pegiat kesehatan maupun masyarakat umum.
Pola makan ini diklaim dapat membantu menurunkan berat badan, memperbaiki metabolisme, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi tubuh.
Tapi sebenarnya, apa itu diet IF dan kenapa banyak orang memilih metode ini?
Baca Juga: Gerakan Pangan Murah Diluncurkan di 5.000 Titik, BULOG Tegaskan Komitmen Stabilkan Harga Beras
Memahami Konsep Diet IF
Intermittent fasting adalah pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa dalam periode tertentu.
Berbeda dengan diet yang fokus pada jenis makanan tertentu, IF lebih menekankan pada kapan kamu makan, bukan apa yang kamu makan.
Baca Juga: Tujuh Puncak Tertinggi atau Seven Summits di Dunia yang Menjadi Hierarki Tertinggi Pendaki Profesional.
Metode ini terbagi dalam beberapa jenis, salah satunya yang paling populer adalah metode 16:8, berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam
Contoh sederhana dari metode 16:8 adalah tidak makan apa pun mulai pukul 8 malam hingga 12 siang keesokan harinya.
Dalam rentang waktu puasa tersebut, tubuh tetap boleh mengonsumsi air putih, kopi hitam tanpa gula, atau teh tawar.
Baca Juga: Telkomsigma Perkuat Transformasi Digital Industri Lewat Solusi Generative AI yang Aman
Mengapa Banyak Orang Memilih Diet IF?
Ada beberapa alasan mengapa diet ini banyak diminati. Pertama, IF dianggap lebih fleksibel karena tidak mengharuskan seseorang menghindari jenis makanan tertentu. Ini membuatnya lebih mudah diterapkan dalam jangka panjang.
Selain itu, banyak orang merasakan peningkatan energi dan fokus selama menjalani fase puasa.
Baca Juga: Inisiatif Pelatihan Sasirangan Dorong Ekonomi Kreatif di Desa Masukau