Ini tampak dari arsitektur di desa Bayung Gede.
Rumahnya terbuat dari bambu dan kayu, sementara atap dari ijuk atau alang-alang.
Tata ruang desa pun masih tradisional di mana pura-pura yang penting berada di pusat desa.
Baca Juga: Tiketnya Murah, Wana Mukti Siguede Suguhkan Pemandangan Setara Negeri Atas Awan
Tradisi lama
Daya tarik lain Desa Bayung Gede adalah tradisi lama yang terus dipertahankan dan dijalankan.
Salah satunya upacara ari-ari yang dilakukan pada saat seorang bayi baru lahir.
Ari-arinya ditempatkan di batok kelapa dan dibawa ke hutan adat, yang lokasinya di sebelah selatan desa.
Baca Juga: Ekowisata Kali Talang, Spot Instagramable di Klaten dengan Panorama Megah Gunung Merapi
Semua batok kelapa berisi ari-ari digantung di pohon bukak yang tumbuh subur di hutan adat.
Meskipun digantung tidak ada keluar bau menyengat.
Tradisi ini dilakukan karena masyrakat setempat percaya dengan mitologi tued kayu (pangkal pohon).
Baca Juga: Stone Park Turunan, Menjejak Awan dari Perbukitan Gunungkidul
Dikisahkan kelahiran manusia pertama Bayung Gede dari tued kayu yang dipercikan air tirta kamandalu oleh monyet putih.
Ada banyaknya gantungan batok kelapa di hutan adat menjadi satu pemandangan unik tersendiri.