Lahir pada 10 April 1969, ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang aktif memperjuangkan hak pekerja, terutama soal upah dan perlindungan tenaga kerja.
Baca Juga: Lowongan Kerja PT MUM untuk SMA hingga S1, Posisi Account Officer Kini Dibuka
Pada Mei 1993, Marsinah terlibat dalam aksi buruh untuk menuntut hak pekerja di tempatnya bekerja. Setelah aksi tersebut, ia dilaporkan menghilang dan kemudian ditemukan meninggal dunia di kawasan hutan Desa Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, pada 8 Mei 1993.
Kasus kematiannya menjadi perhatian nasional karena ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan.
Hingga kini, peristiwa tersebut masih menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia karena pelaku utamanya belum pernah terungkap.
Baca Juga: Pertamina Gelar Energy AdSport Challenge di ITB, Wadah Mahasiswa Tunjukkan Ide Kreatif
Dibangun Tanpa Dana Pemerintah
Pembangunan Museum Marsinah dimulai pada 27 Desember 2025 dan selesai dalam waktu sekitar 4,5 bulan.
Menariknya, pembangunan museum beserta rumah singgah dilakukan secara gotong royong tanpa menggunakan anggaran dari APBN maupun APBD.
Baca Juga: Garuda Indonesia dan Klook Hadirkan “Garuda Things To Do”, Perjalanan Kini Lebih Praktis
Biaya pembangunan yang mencapai hampir Rp3,8 miliar berasal dari dukungan keluarga besar serikat pekerja.
Kini, museum tersebut hadir sebagai ruang penghormatan atas perjuangan Marsinah sekaligus menjadi destinasi wisata sejarah baru di Jawa Timur yang membawa pesan tentang keadilan, kemanusiaan, dan keberanian menyuarakan hak. ***