"Dengan metode ini, kita tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga menciptakan kredit karbon yang dapat diperdagangkan," tambahnya.
Baca Juga: Pemenang Undi-Undi Hepi Telkomsel Periode Oktober 2024 Telah Diumumkan Melalui Link Berikut
Menurut Oki, Indonesia memiliki banyak peluang untuk mengembangkan BECCS, seperti di pabrik bioetanol di Jawa Timur yang juga menghasilkan CO2 untuk industri makanan.
Namun, lanjutnya, untuk mewujudkan teknologi ini diperlukan kolaborasi yang kuat dalam pengembangan teknologi, regulasi yang mendukung, serta dukungan keuangan.
"Regulasi seperti mekanisme MRV (Measurement, Reporting, and Verification) dan pengembangan pasar karbon akan menjadi kunci untuk menarik investasi ke Indonesia. Ini adalah berkah sekaligus peluang besar bagi kita," kata Oki.
Melalui sinergi antara bioenergi dan CCS, Indonesia dapat meningkatkan kontribusi energi terbarukan dan menurunkan emisi karbon secara signifikan.
"Kombinasi ini dapat membantu Indonesia mencapai target Enhanced NDC, yakni pengurangan emisi sebesar 32%, sekaligus mendukung tercapainya sepertiga kebutuhan energi nasional dari sumber terbarukan," tambah Oki.
PT Pertamina (Persero) berkomitmen untuk terus mendorong implementasi BECCS dengan mengoptimalkan modal, teknologi, infrastruktur, dan kerangka regulasi.
Baca Juga: PT PLN Batam Cari Lulusan S1 untuk Magang Sebagai Staf Pengembangan Bisnis dan Enterprise
"Dengan sinergi yang tepat, kita yakin dapat merealisasikan BECCS sebagai solusi unik untuk transisi energi dan aksi iklim di Indonesia," tutup Oki.***
Artikel Terkait
Hari Pertama CSE Asia 2024, UMKM Binaan Pertamina Raih Transaksi Lebih dari Rp1,5 Miliar
Sinergi Baru Elnusa Petrofin dan Pertamina Patra Niaga untuk Pengelolaan Refueller Aviasi
Pertamina Dorong Pengembangan CCS/CCUS untuk Kurangi Emisi Karbon di Indonesia
Risiko Bisnis Tinggi, Pertamina Hulu Rokan Tegakkan Integritas dan Etika dalam Budaya Kerja
Jaket WPS-4 Meluncur, Tonggak Awal PT Pertamina Hulu Mahakam di Proyek Sisi Nubi AOI