Lapangan Minas, Warisan 80 Tahun yang Dimulai dengan Keraguan

Photo Author
Novia, Kabar BUMN
- Kamis, 12 Desember 2024 | 14:30 WIB
Pompa angguk tertua di Minas sekaligus menandai temuan sumur minyak pertama. (DOK.PT Pertamina Hulu Rokan (PHR))
Pompa angguk tertua di Minas sekaligus menandai temuan sumur minyak pertama. (DOK.PT Pertamina Hulu Rokan (PHR))

Konon menurut informasi warga, Minas adalah nama pohon Minei yang buahnya dikenal sebagai bahan baku minyak goreng.

Setelah ditemukan pada 1941 dan mulai berproduksi pada 1954, area yang memiliki luas 67,28 km persegi di Provinsi Riau ini telah menghasilkan lebih dari 2,75 miliar barel minyak mentah.

Baca Juga: Liburan Istimewa ke Negara-negara Bersalju di Bulan Desember, Ingat Dinginnya Tak Akan Sama dengan Musim Lainnya

Menasbihkan diri sebagai salah satu ladang minyak paling besar dan produktif di Indonesia, meski sumur di Minas dikenal tua.

Sebagai sumur minyak tua, Minas telah melewati tantangan zaman dan alam meskipun mengalami penurunan produksi alamiah.

PHR mampu menahan laju penurunan di Minas, dari rata-rata 11 persen per tahun menjadi 6 persen. Sejumlah inovasi teknologi diterapkan.

Baca Juga: Kado Bermakna dari Pertamina: Tambahan Desa Energi Berdikari untuk Masyarakat

Diantaranya, PHR WK Rokan akan meningkatkan produksi minyak dari Blok Rokan melalui rencana pengembangan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Minas Stage-1.

Langkah ini diambil setelah Direktur Utama PHR, Rubi Mulyawan, menyetujui Final Investment Decision (FID) CEOR Minas pada 30 Juni 2024 lalu.

Rencananya, injeksi pertama akan dilakukan pada 2025 Desember mendatang dengan potensi produksi puncak dari CEOR Minas mencapai  lebih dari 2.000 barel minyak per hari dengan penambahan perolehan meinyak dari Blok Rokan sebesar 2,1 juta barrel.

Baca Juga: 67 Tahun Pertamina: Energi untuk Indonesia yang Lebih Baik

Salah satu yang teranyar, yakni penerapan Advanced Reservoir Management berbasis Artificial Intelligence (AI)  Expert System.

Alhasil, lapangan Minas kini memiliki nilai tambah (value creation) sebesar Rp200 miliar dengan evaluasi yang dilakukan pada 150 sumur lama tanpa mengebor sumur baru.

Melalui teknologi VENUS, sebuah aplikasi teknologi lanjutan dari inovasi e-MARS bekerja dengan proses evaluasi sub-surface pertama di Indonesia, bahkan pertama di dunia dengan basis Advance Reservoir Management (RM) dan AI.

Baca Juga: Pentingkah Punya Asuransi Perjalanan? Itu Tergantung Tujuan dan Kondisi Lokasi Liburan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novia

Tags

Artikel Terkait

Terkini