Kabar BUMN - Wartinah nyaris berkepala enam. Tidak heran jika beragam penyakit mendekapnya.
Kolesterol, gangguan tidur, rematik, dan asam urat. Intensitas kambuh penyakitnya setara dosis obat. Sehari tiga kali, kadang lebih.
Ibu dua anak ini sudah tidak bisa berlama-lama mengayuh sepeda, dari siang sampai menjelang matahari tenggelam, mengedarkan terasi buatannya sendiri dari kampung ke kampung.
Baca Juga: Transformasi Digital Bank Mandiri Berbuah Pengakuan Internasional di APICTA Awards 2024
Padahal, aktivitas itu sudah lebih dari dua dekade dia lakukan, tepatnya setelah dia pulang ke tanah air dari Timur Tengah sebagai buruh migran.
Di Desa Rawagempol, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Wartinah adalah master pembuat terasi, layaknya perempuan seangkatan dirinya di kampung itu.
"Sekarang, badan saya mudah capek. Tapi mau bagaimana lagi, saya tidak punya banyak pilihan."
Baca Juga: Hanya 1,5 Jam dari Yogyakarta, Purwokerto Bisa Menjadi Pilihan Wisata Alam dan Sejarah yang Menarik
"Saya tidak punya waktu menyalahkan nasib. Waktu yang saya punya lebih baik dipakai untuk membuat terasi," katanya sambil memipihkan adonan fermentasi udang rebon.
Bulatan adonan setengah basah seukuran telapak tangan orang dewasa itu kemudian dia jemur sampai kering.
Dalam sehari, dari 10 kilogram bahan baku terasi, Wartinah biasa memproduksi rata-rata 100 keping terasi ukuran sedang, dan 20 ukuran besar.
Baca Juga: Pertamina Pastikan Suplai Energi untuk Dukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Satu keping terasi ukuran sedang dijual Rp2.500, dan keping besar Rp10.000.
Jam dinas Wartinah dimulai sejak subuh.
Artikel Terkait
PHE ONWJ Dorong Kesejahteraan Masyarakat dengan 49 Program CSR di Tahun 2024
EVE Ejector, Inovasi PHE ONWJ untuk Kurangi Emisi dan Tingkatkan Kinerja Operasi
Dukung Nelayan Kepulauan Seribu, PHE OSES Bantu Keramba Jaring Apung
Awal 2025 yang Menggebrak! PHE Catat Sumur Pengeboran BNG-064 Tembus 990% dari Target
Berkat Gerobak Serbaguna PHE OSES, Pulau Kelapa Kini Bebas dari Tumpukan Sampah