Baca Juga: Museum Marsinah Resmi Hadir di Nganjuk, Jadi Destinasi Wisata Sejarah Sarat Edukasi
Selain itu, ICAO juga mendorong negara anggota untuk tetap mempertahankan infrastruktur navigasi berbasis darat sebagai pelengkap sistem GNSS.
”Indonesia telah mengadopsi kerangka kerja GNSS RFI dalam regulasi penerbangan nasional.
AirNav Indonesia, sebagai penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di seluruh wilayah udara Indonesia, telah mengimplementasikan ketentuan tersebut secara penuh dalam kegiatan operasional sehari-hari,” jelas Avirianto.
Baca Juga: Produktivitas Pelabuhan Meningkat, PTP Nonpetikemas Cabang Banten Perkuat Terminalisasi di Ciwandan
Infrastruktur Navigasi Jadi Lapisan Penting Keselamatan Penerbangan
Avirianto memaparkan bahwa AirNav Indonesia mengoperasikan infrastruktur navigasi berbasis darat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sistem tersebut mencakup tiga fasilitas utama yang beroperasi di wilayah Jakarta Flight Information Region (FIR) dan Makassar FIR, termasuk bandar udara utama hingga daerah terpencil.
Baca Juga: ASDP Tegaskan Komitmen Konektivitas Nasional di Hari Kebangkitan Nasional 2026
Salah satu fasilitas tersebut adalah Very High Frequency Omnidirectional Range (VOR), yakni perangkat navigasi yang memancarkan sinyal radio VHF dari stasiun darat dengan jangkauan hingga 200 nautical miles.
Sistem ini dapat beroperasi secara independen tanpa bergantung pada sinyal satelit. ”AirNav Indonesia saat ini mengoperasikan fasilitas DVOR (Doppler VOR) dengan akurasi lebih tinggi dibandingkan VOR konvensional,” imbuh Avirianto.
Fasilitas berikutnya ialah Distance Measuring Equipment (DME), yang berfungsi memberikan informasi jarak diagonal atau slant range antara pesawat dengan stasiun darat secara real-time.
Baca Juga: Pasar Kosambi, Pusat Oleh-oleh Tradisional Khas Bandung Sejak Ratusan Tahun Lalu
Ketika dioperasikan bersama VOR dalam format VOR/DME, sistem tersebut mampu memberikan informasi posisi pesawat secara lengkap berdasarkan arah dan jarak.
”Kemudian ada juga Instrument Landing System (ILS), yaitu sistem panduan presisi untuk fase pendekatan dan pendaratan yang beroperasi sepenuhnya independen dari GNSS.
Fsilitas ILS ini terdiri dari Localizer (panduan arah horizontal) dan Glide Slope (panduan sudut penurunan vertikal),” sambung Avirianto.