Setelah lelah berjalan-jalan, pengunjung bisa bersantai di banjar adat yang ada di tengah rumah penduduk.
Baca Juga: Savana Tianyar, Tempat Wisata Gratis di Bali yang Keindahannya Setara Padang Rumput di Afrika
Arsitektur tradisional
Yang unik lagi dari desa Penglipuran adalah bentuk rumah-rumah penduduknya.
Mereka masih mempertahankan arstitektur lama. Rumah masih dibangun dari bambu.
Dan konsep rumahnya pun terbilang seragam.
Baca Juga: Punya Rencana Liburan ke Ubud Bali? Ini 10 Rekomendasi Destinasi yang Wajib Dikunjungi!
Semua rumah di desa ini memiliki kamar tidur, ruang tamu, dapur, balai-balai, lumbung dan tempat sembayang.
Bentuk yang seragam ini juga yang membedakan antara Desa Penglipuran dengan desa-desa di Bali yang lain.
Desa Penglipuran buka setiap hari dari jam 08.00 – 17.00 WITA.
Tiket masuk domestik dewasa Rp15.000, anak-anak Rp10.000, mancanegara dewasa Rp30.000 dan anak-anak Rp25.000.***
Artikel Terkait
Peraih Rekor MURI, 14 Desa Wisata di Indonesia Ini Bisa Kamu Jelajahi, Masing-masing Punya Daya Tarik Sendiri
Mampir ke Desa Wisata Silalahi, Pedesaan di Pesisir Danau Toba yang Cantik dan Kaya Budaya
Hutan Bambu di Desa Penglipuran Bali Disulap Jadi Mirip Arashiyama di Jepang
Jalan-Jalan Sambil Belajar Budaya Sumba di Desa Wisata Tebara
Wisata ke Kampung Di Atas Awan Wae Rebo, Desa Adat yang Tak Tergoyahkan Dengan Modernisasi
Ada Waterboom hingga Taman Bunga, Desa Wisata di Karanganyar Ini Bisa Jadi Destinasi Liburan Bersama Keluarga