Penduduk setempat juga secara khusus meminta agar tidak ada koneksi internet di daerahnya.
Baca Juga: Pulau Peucang, Kepingan Surga di Pandeglang Banten yang Sajikan Banyak Wisata Alam Pemikat Wisatawan
Mereka hidup dari bercocok tanam, membuat kain untuk bajunya sendiri, dan obati penyakit dengan tanaman.
Kebutuhan sehari-hari pun diambil dari alam. Tidak ada penggunaan sabun, odol, deterjen, dan lainnya.
Kemana-mana masyakarat Baduy masih berjalan kaki dan menolak menggunakan kendaraan.
Baca Juga: Benamkan Diri dalam Keindahan Pantai Tanjung Lesung Berpasir Putih di Pandeglang Banten
3. Desa Adat Ammatoa
Desa adat ini berada di Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumbang, Sulawesi Selatan.
Rumah penduduknya masih mempertahankan model rumah panggung dari kayu.
Dan sangat biasa melihat rumah yang ditempati bersama hewan peliharaan bahkan ternaknya.
Di sini semuanya masih serba tradisional. Tidak ada listrik, barang elektronik dan ponsel.
Masyarakat Ammatoa pun tidak punya kendaraan bermotor. Ke mana-mana berjalan kaki.
Masih memegang utuh tradisi nenek moyang, masyaraat ini selalu menggunakan baju warna hitam.
Hitam dipercaya sebagai gelapnya rahim di kandungan dan gelapnya kuburan saat meninggal.
Artikel Terkait
4 Jalur Trekking Sederhana dan Mudah Ditempuh, Isi Liburan Anak-anak Ke Sini Pasti Menyehatkan
Maksimalkan Kesempatan Liburan di Lombok. Jelajahi Pantai, Air Terjun, Desa Adat, Sampai Goa Alami
Susuri Kota Tua Gresik yang Kaya dengan Bangunan Indah Hasil Alkulturasi Budaya
Membenamkan Diri dalam Keindahan Pantai Ora di Pulau Seram, Pemandangannya Bikin Betah
Mirip Pantai Pangasan di Pacitan, Tempat Wisata di Trenggalek Ini Juga Tawarkan View Sawah di Pinggir Pantai